Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si., menyampaikan pesan mendalam dalam sambutannya pada pembukaan Festival Anak Saleh Muhammadiyah (Fashmu) Jawa Timur 2025 di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (4/10/2025).
Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadi generasi penerus dakwah dan saksi atas tauhid Allah di semua bidang kehidupan.
“Terbayang di benak saya, inilah wajah Muhammadiyah dua puluh tahun ke depan, ketika Indonesia memasuki usia satu abad. Inilah wajah anak-anak kita, adik-adik kita,” ujarnya mengawali sambutan.
Menurutnya, kehadiran anak-anak dalam ajang FASHMU bukan sekadar perlombaan seni, melainkan bagian dari pembentukan generasi tauhid yang akan menjadi saksi sejarah dakwah Muhammadiyah di masa depan.
“Jika Allah memerlukan kesaksian atas tauhid-Nya, maka kesaksian itu tidak hanya dalam konteks ibadah. Kita semua harus menjadi saksi atas tauhid Allah dalam seluruh bidang kehidupan,” terangnya.
Saksi Tauhid dalam Seni dan Budaya
Fathurrahman memaknai penampilan anak-anak dalam berbagai kategori lomba sebagai bentuk kesaksian tauhid dalam bidang seni dan budaya. Menurutnya, pentas seperti ini menjadi penting agar ekspresi seni tidak lepas dari nilai-nilai keislaman.
“Kalau pentas seni dan budaya diisi oleh orang yang tidak bertauhid, maka hasilnya tentu tidak mencerminkan tauhid itu sendiri—baik dari sisi kostum, lirik, maupun ekspresi,” ungkapnya.
Ia bahkan menilai lagu-lagu dan penampilan anak-anak di FASHMU sangat positif. “Saya memaknai bahwa anak-anak kita harus menjadi saksi atas tauhid Allah melalui panggung seperti ini. Dari lagu Indonesia Raya hingga penampilan lainnya, semua sarat nilai dan makna,” katanya.
Makna Nama Muhammadiyah
Dalam bagian lain sambutannya, Fathurrahman menguraikan makna filosofis di balik nama Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa menjadi warga Muhammadiyah bukan sekadar mengikuti ajaran Nabi Muhammad, tetapi meneladani totalitas kehidupannya.
“Yang disebut Muhammadiyah bukan hanya pengikut Nabi Muhammad, tetapi pancaran dari seluruh nilai, akhlak, dan ajaran beliau. Akal, spiritual, sosial, dan amal harus menyatu,” jelasnya.
Ia juga menyinggung alasan para pendiri menamai gerakan ini Muhammadiyah, agar gerakan dakwah ini abadi seperti nama Nabi Muhammad SAW. “Siapa pun di dunia ini, dari masa ke masa, pasti mengenal dan menyebut nama Muhammad Rasulullah. Itulah keberkahan nama ini,” tambahnya.
Keabadian Dakwah Melalui Al-Qur’an
Fathurrahman kemudian menegaskan bahwa yang menjadikan Islam dan nama Muhammad tetap hidup adalah Al-Qur’an. “Allah tidak pernah berfirman, ‘Kami menjaga Muhammad,’ tetapi yang dijamin keabadiannya adalah Al-Qur’an. Maka kalau Muhammadiyah ingin abadi sebagaimana cita-cita para pendirinya, tidak ada pilihan lain selain menghidupkan Al-Qur’an,” tegasnya.
Ia menegaskan, kampus, bangsa, maupun organisasi yang ingin terus hidup harus menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan. “Rawatlah Al-Qur’an. Instal nilai-nilainya ke dalam seluruh sistem kehidupan kita,” pesan Fathurrahman.
Pernyataan itu sejalan dengan semangat Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim, KH Abdul Basith, yang sebelumnya menyebut bahwa generasi Al-Qur’an adalah generasi para pemenang di setiap zaman.
Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an
Fathurrahman menukil kisah Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah. “Aisyah menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an. Itulah sertifikasi tertinggi bagi seorang mukmin,” ujarnya.
Ia mengingatkan para guru, pendamping, dan peserta FASHMU untuk meneladani cahaya kenabian dalam kehidupan sehari-hari. “Ketika Allah menyebut nur, para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Muhammad. Maka, orang yang telah menyalakan cahaya kenabian dalam dirinya, itulah living Qur’an — Al-Qur’an yang hidup,” tutur Fathurrahman.
“Tidak heran jika kita ingin meneladani akhlak Kiai Ahmad Dahlan, maka sesungguhnya yang kita pelajari adalah bagaimana beliau menjadikan Al-Qur’an sebagai akhlak yang hidup dalam gerakan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments