Cahaya fajar belum sepenuhnya merekah ketika jamaah sudah memenuhi Masjid Al Jihad Banjarmasin, Jumat (14/11/2025) pagi.
Masjid besar itu tampak sesak oleh peserta CRM Award VI LPCRPM PP Muhammadiyah, warga Banjarmasin, hingga jamaah umum yang ingin menyimak kuliah subuh spesial dari Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si.
Meski perjalanan dakwahnya penuh rintangan—“delay sampai tiga kali,” ujarnya sambil tersenyum—ia bersyukur dapat tiba dan membersamai jamaah.
“Mudah-mudahan setiap langkah kita untuk memajukan agama dan persyarikatan dicatat Allah sebagai sebab kemuliaan, dan dibalas dengan Jannatun Na‘im,” tuturnya membuka tausiyah.
Dalam penyampaiannya, Fathurrahman menegaskan bahwa seluruh gerak hidup manusia, disadari ataupun tidak, adalah cerminan dari keimanan dan syahadat yang diyakini.
“Hidup bukan semata etika dan moral. Hidup bermakna karena ia adalah manifestasi keyakinan kita kepada Allah Yang Maha Tak Terbatas,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa ideologi apa pun dapat diperdebatkan, agama dapat diragukan oleh sebagian orang, namun tak seorang pun dapat menghindari fakta tentang kematian.
Syukur Menjadi Bagian dari Muhammadiyah
Masuk ke pesan utama, Fathurrahman mengajak jamaah mensyukuri anugerah besar berupa keberadaan dalam Muhammadiyah.
“Kalau Allah menganugerahkan rezeki berupa Muhammadiyah, maka itu datang dari iradat-Nya. Tidak mungkin kita merasakan nikmat berada dalam gerakan ini tanpa kehendak Allah,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, bahwa Muhammadiyah bukan sekadar penyebutan pengikut Nabi Muhammad. Ada filosofi mendalam di balik kata Muhammadiyah.
“Kalau sekadar followers, kita cukup disebut Muhammadiyyun. Tapi tambahan ‘yah’ menjadikannya karakter. Muhammadiyah berarti meneladani dan memanifestasikan seluruh kemuliaan Nabi dalam semua dimensi kehidupan,” ujarnya.
Jamaah dan Kekuatan Kolektif Kebenaran
Mengutip hadis Rasulullah Saw, Fathurrahman menyampaikan bahwa Allah tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan.
“Tangan dan kekuasaan Allah bersama jamaah. Maka menyendiri, menyimpang dari jamaah, sangat berbahaya,” tegasnya.
Ia menyitir pendapat Ibnu Taimiyah yang menyebut bahwa menjelang kiamat akan selalu ada kelompok yang tegak di atas kebenaran. Ketika membaca teks tersebut, menurutnya ciri-cirinya sangat mirip dengan gerakan Muhammadiyah: dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan komitmen kepada kebenaran.
“Percayalah, orang yang memegang kendali kebatilan tidak akan mengalahkan orang yang memegang kebenaran,” ujarnya.
Karomah yang Hakiki: Keteguhan, Keikhlasan, dan Kerja Jamaah
Dalam bagian paling emotif, Fathurrahman menjelaskan makna karomah bukan sebagai hal-hal spektakuler, tetapi sesuatu yang jauh lebih mendasar.
“Karomah yang hakiki adalah kedekatan hamba kepada Allah—baik saat sendiri maupun di tengah manusia. Orang yang hidupnya tenang karena Allah menjadi orientasinya. Itu karomah,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman pembangunan salah satu gedung dakwah yang penuh keajaiban dan kemudahan dari sumber yang tak terduga, sebagai bukti bahwa Allah menjaga gerakan yang ikhlas.
“Beda kalau kita bekerja sendiri. Tapi kalau Allah sudah ikut campur, semuanya mungkin,” ujarnya disambut anggukan jamaah.
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Fathurrahman juga mengingatkan bahwa masjid bukan hanya tempat ritual, melainkan instrumen membangun umat.
Dalam refleksinya, ia menyebut bahwa Kakbah, Mina, Arafah—semua adalah benda mati. Namun manusia, siapa pun ia, bahkan non-Muslim sekalipun, wajib dimuliakan karena mereka adalah ciptaan Allah.
Mengutip istilah karomah al-jamaah, Fathurrahman menyampaikan keyakinan bahwa gerakan besar seperti Muhammadiyah mendapat penjagaan dari Allah.
“Pemimpin boleh berganti, tapi ruh dan spirit Muhammadiyah tetap dijaga. Ia tidak akan berubah menjadi ‘Fathurrahmaniyah’ atau lainnya. Allah menjaga Muhammadiyah selama-lamanya,” ucapnya.
Ia mengingatkan agar jamaah menjaga hati, menjaga masjid, menjaga perserikatan, dan menjaga ketakwaan.
Terakhir, Fathurrahman mengajak jamaah terus memupuk rasa syukur dan menjadikannya energi untuk menguatkan dakwah.
“Syukur harus kita tunaikan dalam tindakan. Bersyukurlah menjadi bagian dari Muhammadiyah, dan jadikan itu sebagai jalan kedekatan kepada Allah,” tutupnya.
Kajian subuh ini menegaskan satu hal: menjadi Muhammadiyah bukan hanya identitas, tetapi amanah untuk menjaga kebenaran, keikhlasan, dan peradaban. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments