Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fenomena Fatherless dan Realitas Peran Ayah

Iklan Landscape Smamda
Fenomena Fatherless dan Realitas Peran Ayah
Ustaz Ridwan Manan,S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Ponpes Al Fatah Buduran Sidoarjo. foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Ridwan Manan, S.Pd., M.Pd. Kepala SMA Pondok Pesantren Al Fattah, Buduran Sidoarjo
pwmu.co -

Dalam perspektif Islam, peran ayah memiliki pengaruh besar terhadap arah kehidupan anak di masa depan. Fenomena hilangnya peran ayah atau fatherless saat ini kerap hadir dalam bentuk berbeda. Ayah memang berada di rumah, tetapi tidak terlibat dalam dialog dan bimbingan keluarga.

Sebagian ayah memandang dirinya sebatas pencari nafkah. Ketika kebutuhan materi keluarga telah terpenuhi, ia merasa kewajibannya selesai, sementara urusan pendidikan dan pengasuhan anak sepenuhnya diserahkan kepada ibu.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini menegaskan bahwa ayah memiliki tanggung jawab menjaga iman, akhlak, dan arah hidup keluarga, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2024, sekitar 15,9 juta atau 20,1 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan ayah secara maksimal. Kondisi ini mencakup anak yang tidak memiliki ayah secara fisik maupun yang memiliki ayah, tetapi minim interaksi serta kurang kehadiran secara spiritual dan emosional.

Dialog Ayah dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menunjukkan peran strategis ayah dalam pengasuhan melalui sejumlah dialog antara ayah dan anak. Tercatat 14 dialog ayah dengan anak dan dua dialog ibu dengan anak.

Dialog tersebut antara lain:

1. QS. Al-An’am: 74, dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya.
2. QS. Hud: 42–43, dialog Nabi Nuh dengan anaknya.
3. QS. Yusuf: 4–5, dialog Nabi Yusuf dengan ayahnya.
4. QS. Yusuf: 11–18, dialog Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya.
5. QS. Yusuf: 63–67, dialog Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya.
6. QS. Yusuf: 81–87, dialog Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya.
7. QS. Yusuf: 94–98, dialog Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya.
8. QS. Yusuf: 99–100, dialog Nabi Yusuf dengan ayahnya.
9. QS. Maryam: 41–48, dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya.
10. QS. Al-Qashash: 26, dialog Syaikh Madyan dengan putrinya.
11. QS. Luqman: 13–19, dialog Luqman dengan anaknya.
12. QS. Ash-Shaffat: 102, dialog Nabi Ibrahim dengan Ismail.
13. QS. Maryam: 23–26, dialog ibu dengan anaknya.
14. QS. Al-Qashash: 11, dialog ibu dengan anaknya.

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa ayah memiliki peran dominan dalam mendidik putra-putrinya sebagai teladan, pembimbing, pemimpin, sekaligus pendamping spiritual dan emosional.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Keterlibatan ayah sejak dini, seperti menggendong, bermain, dan mendampingi anak, berpengaruh terhadap perkembangan mental. Ayah yang terlibat aktif cenderung membentuk anak yang lebih berani, tangguh, mudah beradaptasi, dan percaya diri.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa peran ayah berkorelasi dengan keberhasilan akademik anak. Dukungan akademik dari ayah berhubungan positif dengan motivasi belajar remaja.

Memanggil Kembali Peran Ayah

Fenomena fatherless bukan hanya persoalan keluarga, melainkan persoalan sosial yang berdampak pada kualitas generasi. Ketika ayah absen dalam pengasuhan, yang terancam bukan hanya masa depan anak, tetapi juga masa depan bangsa.

Ayah tidak dituntut untuk menjadi sosok sempurna, tetapi dituntut untuk hadir. Kehadiran itu bukan sekadar fisik, melainkan keterlibatan emosional dan spiritual dalam membimbing keluarga.

Pertanyaan “Ke mana engkau ayah?” bukanlah gugatan, melainkan panggilan nurani agar ayah kembali menempati peran strategis sebagai penjaga iman, penuntun akhlak, dan penentu arah generasi.

Harapannya, lahir kembali generasi ayah yang hadir secara fisik, emosional, dan spiritual demi terwujudnya keluarga sakinah dan peradaban yang bermartabat.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu