Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fenomena Gerhana Bulan Menghiasi Langit, Siswa Smamita Diajak Merenungi Keagungan dan Kebesaran Allah

Iklan Landscape Smamda
Fenomena Gerhana Bulan Menghiasi Langit, Siswa Smamita Diajak Merenungi Keagungan dan Kebesaran Allah
Siswa SMA Muhammadiyah 1 Taman sedang mengamati Fenomena Alam Gerhana Bulan di rooftop lantai 8. Foto: Satrio/PWMU.CO
pwmu.co -

Fenomena gerhana bulan total yang menghiasi langit malam Ramadan menjadi pengalaman berkesan bagi para siswa SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Peristiwa alam yang tergolong langka ini tidak hanya disaksikan sebagai kajian astronomi, tetapi juga dimaknai sebagai sarana edukasi spiritual untuk menumbuhkan kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah SWT, Selasa (3/3/2026).

Kegiatan observasi dilaksanakan di rooftop lantai 8 Smamita setelah para siswa berbuka puasa. Dengan penuh antusias, siswa yang sebagian besar merupakan pengurus organisasi otonom (ortom) mengikuti pengamatan gerhana bulan yang dipandu oleh Muhammad Syamsu Alam Darajat, S.HI., S.H., M.A., dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

Meski cuaca kurang bersahabat dan awan tebal menyelimuti langit Sidoarjo sehingga pengamatan melalui teleskop astronomi tidak optimal, semangat belajar para siswa tetap terjaga. Syamsu Darajat memanfaatkan laser pointer dan aplikasi pemetaan langit digital untuk menjelaskan posisi serta pergerakan benda-benda langit secara runtut dan mudah dipahami.

“Gerhana bulan dalam pandangan Islam merupakan tanda kebesaran Allah, bukan pertanda musibah atau kejadian tertentu. Fenomena ini mengingatkan bahwa seluruh pergerakan benda langit berjalan sesuai sunnatullah dengan perhitungan yang sangat presisi,” ujar Syamsu Darajat.

Ia menambahkan, momen tersebut menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan tidak bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Gerhana Bulan Total (GBT) kali ini terjadi pada 15 Ramadan 1447 H atau bertepatan dengan 3 Maret 2026. Secara astronomis, gerhana bulan total terjadi ketika seluruh permukaan Bulan memasuki bayangan inti (umbra) Bumi akibat konfigurasi Matahari, Bumi, dan Bulan yang berada pada satu garis lurus.

Rangkaian gerhana dimulai dengan Kontak Awal Penumbra (P1) pukul 15.44 WIB dan Kontak Awal Sebagian (U1) pukul 16.49 WIB, namun belum dapat diamati karena Bulan masih berada di bawah horizon. Bulan terbit pada pukul 17.43 WIB, disusul Matahari terbenam pada 17.48 WIB waktu Sidoarjo.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Gerhana berpotensi teramati saat Kontak Awal Total (U2) pukul 18.03 WIB hingga Kontak Akhir Penumbra (P4) pukul 21.23 WIB, dengan puncak gerhana terjadi pukul 18.33 WIB pada ketinggian Bulan +11° 11′ 04″. Namun, awan tebal membuat fase total dari U2 hingga U3 tidak tampak jelas dari lokasi pengamatan.

Meski demikian, Syamsu Darajat menegaskan tujuan utama kegiatan tetap tercapai.

“Siswa diharapkan mampu memahami geometri langit, bagaimana Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus secara real time, serta menganalisis perubahan warna Bulan menjadi kemerahan akibat hamburan Rayleigh. Hal ini memberikan pemahaman praktis tentang peran atmosfer Bumi dalam membiaskan cahaya,” jelasnya.

Kesan mendalam juga dirasakan Raihan Praslinoise, Ketua Umum Hizbul Wathan Smamita. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap fenomena tersebut.

“Meskipun momentum gerhana bulan ini tidak begitu tampak, saya yakin alam semesta diciptakan dengan sangat sempurna. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Hal ini membuat saya semakin bersyukur atas kebesaran yang telah Allah berikan,” tuturnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu