Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fenomena Mengkritik Cerdik dengan Simbol Fiksi

Iklan Landscape Smamda
Fenomena Mengkritik Cerdik dengan Simbol Fiksi
Marjoko. foto: dok/pri

Oleh: Marjoko
Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Digital PDM Kota Pasuruan

Fenomena penggunaan simbol fiksi seperti Wakanda, Konoha, dan kini Jolly Roger untuk mengkritik kondisi Indonesia mencerminkan kecerdasan serta kreativitas generasi digital.

Narasi kritis kini tidak lagi terbatas pada bahasa formal atau demonstrasi fisik. Tetapi juga disampaikan melalui metafora dari budaya populer yang akrab bagi mereka.

Simbol-simbol ini bukan sekadar lelucon atau pelarian (eskapisme), melainkan sarana komunikasi yang efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap realitas sosial dan politik.

Ketika Wakanda — negara fiksi yang terletak di Afrika, yang terkenal sebagai kampung halaman pahlawan super Black Panther dalam komik dan film Marvel — disandingkan dengan Indonesia, pesan yang tersirat sangat terasa: “mengapa negara yang kaya sumber daya alam justru kesulitan mensejahterakan rakyatnya?

Wakanda, dengan vibranium-nya yang dikelola mandiri untuk kemajuan bangsa, menjadi antitesis bagi negara yang kekayaan alamnya justru seringkali dieksploitasi oleh pihak asing, atau dinikmati oleh segelintir elite.

Pernyataan ini merupakan kritik terhadap kedaulatan ekonomi dan pengelolaan sumber daya, yang menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tercapai ketika suatu bangsa mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa tunduk pada intervensi pihak luar.

Penggunaan istilah ‘Wakanda’—yang identik dengan gambaran negara makmur dan kaya—dalam bentuk plesetan kata ‘Indonesia’ bertujuan untuk menghindari jerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 11 Tahun 2008, yang mengatur informasi, transaksi elektronik, dan teknologi informasi secara umum.

Ilustrasi foto: chatgbt

Negeri Indonesia kerap disamakan pula dengan desa fiksi Konoha dari serial Naruto karena dianggap memiliki kemiripan dalam sosok para pemimpinnya. Konoha memiliki tujuh Hokage, mirip dengan Indonesia yang telah dipimpin oleh sejumlah presiden.

Soekarno, presiden pertama Indonesia, disamakan dengan Hashirama Senju karena keduanya merupakan pendiri negara dan dikenal tegas. Soeharto dianggap mirip Tobirama Senju, yang mendukung pemimpin pertama. B.J. Habibie dan Hiruzen Sarutobi sama-sama dikenal cerdas dan berwawasan luas.

Gus Dur kerap disamakan dengan Minato Namikaze karena sama-sama rela mundur demi perdamaian. Megawati Soekarnoputri disebut mirip Tsunade Senju karena sama-sama perempuan pertama yang memimpin serta merupakan keturunan pemimpin pertama.

Susilo Bambang Yudhoyono dinilai memiliki kemiripan dengan Kakashi Hatake, pemimpin keenam Konoha, karena latar belakang keduanya berasal dari lingkungan militer. Sementara itu, Presiden Joko Widodo dianggap memiliki kesamaan dengan Naruto Uzumaki, yakni sama-sama bertekad menciptakan kedamaian, termasuk di negara lain.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Penggunaan istilah “Konoha” di Indonesia, sama halnya dengan istilah “Wakanda”, kerap dimanfaatkan sebagai bentuk sindiran atau kode untuk menghindari jeratan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 11 Tahun 2008 yang mengatur informasi serta transaksi elektronik.

Terbaru dan cukup mencolok, muncul bendera Jolly Roger — simbol bajak laut dalam film One Piece — yang hendak berkibar di tengah suasana Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 RI. Ini mungkin tidak sekadar provokatif, melainkan pernyataan sikap yang kuat.

Dalam One Piece, bajak laut adalah simbol perlawanan terhadap pemerintahan dunia yang korup dan manipulatif. Dengan mengasosiasikan lambang ini dengan Indonesia, netizen seakan menyiratkan bahwa kemerdekaan yang dirayakan belum sepenuhnya menghadirkan keadilan.

Mereka menilai sistem kekuasaan kerap dijalankan oleh “Marine” atau “pemerintah dunia” secara kiasan—yakni pihak-pihak yang serakah, hanya mementingkan kekuasaan, dan mengabaikan aspirasi rakyat.

Penggunaan simbol-simbol itu menandakan terjadinya pergeseran cara pandang dalam menyampaikan kritik. Generasi muda tidak lagi menunggu platform formal untuk menyampaikan pendapat atau pandangan mereka.

Tapi cukup dengan menciptakan ruang diskursus sendiri melalui media sosial, menggunakan bahasa yang mereka pahami dan nikmati. Narasi fiksi tidak lagi sekadar hiburan, tetapi telah bertransformasi menjadi alat untuk membedah kenyataan.

Ke depannya, sangat mungkin simbol-simbol dari semesta fiksi lain, seperti Attack on Titan yang mengkritik otoritarianisme, Black Mirror yang menyoroti teknologi dan dampaknya, atau My Hero Academia yang mengeksplorasi isu keadilan dan kekuatan, akan turut digunakan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara fiksi dan realitas semakin kabur dalam upaya manusia memahami dan mengkritik dunia di sekitarnya.

Kritik yang muncul bukan sekadar bentuk protes, tetapi juga pernyataan bahwa mereka peduli, sekaligus memilih cara yang paling efektif dan relevan bagi generasi mereka untuk menyuarakan kepedulian tersebut. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡