Figur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (saw) selalu menarik untuk diperbincangkan, baik di kalangan agamawan maupun cendekiawan.
Bahkan, ketertarikan itu tidak hanya datang dari umat Islam saja, melainkan juga dari kalangan non-Muslim. Hal ini menegaskan bahwa beliau adalah sosok yang mendunia.
Berbicara tentang perjalanan hidup Rasulullah Muhammad saw tentu tidak bisa berlepas dari ajaran yang beliau bawa, yakni Islam.
Karena itu, sesungguhnya menjadikan kebahagiaan tersendiri bagi umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad saw. Ajaran beliaulah yang mampu menghadirkan solusi terhadap setiap problematika kemanusiaan.
Para ahli sejarah mencatat, Rasulullah saw hadir membawa risalah Islam di tengah masyarakat yang sedang mengalami degradasi peradaban.
Wujud kemunduran itu tampak dari degradasi moral, ketimpangan sosial, perbudakan, hingga praktik mengerikan berupa pembunuhan bayi perempuan yang dilegalkan.
Fakta sosiologis dan antropologis menjadi dasar argumentasi bahwa kehadiran Rasulullah SAW membawa misi besar, yaitu: membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan dan menegakkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.
Tidak heran bila salah satu tugas utama beliau di muka persada raya ini adalah untuk memperbaiki peradaban manusia.
Sebagaimana sabda beliau:
انما بعثت لأتمم مكارم الأخلق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad).
Keadilan dan kemanusiaan hanya dapat terwujud jika manusia mampu melepaskan diri dari ketergantungan berlebihan pada materi atau benda.
Karena ketergantungan terhadap sesuatu selain kepada Allah semacam itu berpotensi menyeret manusia pada perselingkuhan dengan Tuhan. Dalam istilah agama disebut syirik, lawan dari tauhid.
Oleh karena itu, ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad saw jika benar-benar diejawantahkan dalam kehidupan, akan membebaskan umat dari belenggu ketidakadilan sekaligus mengembalikan mereka pada kehidupan yang berkeadaban.
Sejarah mencatat, para bangsawan dan pemimpin Quraisy Makkah menentang ajaran Islam karena merasa terancam. Mereka khawatir kehilangan eksistensi politik, monopoli ekonomi, dan pengaruh sosial.
Karena itu, mereka dengan menggunakan berbagai cara berusaha memadamkan api Islam.
Para golongan aristokrat seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sufyan menjadi barisan utama penentang dakwah Rasulullah.
Sebaliknya, ajaran Islam justru disambut oleh kaum tertindas, seperti keluarga Yasir dan Bilal bin Rabah.
Penolakan Quraisy terhadap dakwah Rasulullah melalui ajaran Islam-nya sesungguhnya bukan semata persoalan teologi, melainkan lebih pada ketakutan kehilangan kekuasaan dan privilese.
Sikap inilah yang oleh Nabi disebut sebagai penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati—suatu penyakit yang beliau khawatirkan akan menjangkiti umatnya.
Dengan membaca sejarah dari perspektif ini, dapat kita pahami bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW beserta ajaran Islam adalah untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kehidupan: agama, politik, sosial, maupun budaya.
Pertanyaannya kini, apakah ajaran Islam sudah benar-benar diimplementasikan oleh pemeluknya—baik para pemimpin maupun ulama—untuk menyelesaikan persoalan kehidupan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah?
Pertanyaan reflektif ini menjadi pekerjaan rumah bagi umat Islam. Sebab, ajaran Islam bukan sekadar ritual, melainkan pedoman hidup yang menyelesaikan persoalan manusia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita kembali memperhatikan pesan universal Rasulullah dalam khutbah perpisahannya (Khutbah Haji Wada’) sebagai pedoman bersama.
Keluasan dan kedalaman ajaran Islam terdapat dalam khutbah perpisahan beliau, di antara isi pesannya sebagai berikut:
- Kesetaraan
Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa semua muslim bersaudara, tidak ada keunggulan satu dengan yang lain, kecuali ketaqwaan.
Dengan kata lain, makna kesetaraan adalah bahwa bangsa kulit putih tidak lebih mulia daripada bangsa kulit hitam; seorang raja tidak otomatis lebih terhormat daripada rakyat jelata; dan orang kaya tidak lebih mulia daripada orang miskin.
Sebab, kemuliaan seseorang tidak diukur dari warna kulit, pangkat, atau harta, melainkan dari sejauh mana ia berbakti kepada Allah SWT.
ان اكرمكم اند الله اتقكم
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang balik banyak baktinya” ( Al hujurat : 13)
- Penghapusan Riba
Nabi Muhammad SAW menghapuskan segala bentuk riba, termasuk riba yang melibatkan keluarga dekat. Misalnya, penghapusan sistem ekonomi yang tidak adil.
Ajaran Islam tentang penghapusan riba ini menjadi salah satu yang paling dibenci oleh konglomerat Quraisy. Para pembesar Arab itu merupakan penikmat dari transaksi ribawi.
Bagi mereka yang kaya, sistem riba tersebut sangat menguntungkan. Sedangkan bagi orang-orang lemah, sistem riba ini justru semakin menindas dan membuat mereka menjadi semakin teraniaya.
Perspektif ini tidak dalam kapasitas menilai riba sebagai perbuatan halal atau haram. Tapi lebih pada tindakan menggugat ketidakadilan dalam sistem ekonomi yang dipraktekkan orang kaya terhadap orang miskin.
- Pesan kemanusiaan
Pada khutbah perpisahan itu pula, beliau menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang universal. Antara lain berkaitan pentingnya keadilan, persaudaraan dan perlakuan baik pada sesama.
Pesan kemanusiaan itu tergambar sangat indah dalam Sabdanya:
“Tidaklah beriman salah satu di antara kalian, sebelum cinta kepada saudaranya, sebagaimana cinta kepada diri sendiri” ( HR. Bukhari Muslim)
Ironisnya, keindahan dan kesempurnaan ajaran Islam itu terkadang tertutupi oleh pemeluknya sendiri.
Refleksi tentang figur Sang Pencerah melalui ajarannya sangat penting untuk terus disuarakan. Islam tidak hanya bermakna sebagai agama yang terbatas pada ibadah ritual, melainkan sebagai agama yang memiliki misi pembebasan manusia dari ketidakadilan, memerdekakan dari ketertindasan, serta mengembalikan kehidupan pada jalan yang berkeadaban. Inilah cita-cita besar Islam yang terkenal sebagai Rahmatan lil-‘Alamin, anugerah agung dari Allah SWT. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments