Mahasiswa Psikologi KKN 07 Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melaksanakan kegiatan psikoedukasi anti-bullying untuk siswa kelas IV SDN Gunungsari No.587 pada Jumat (23/1/2026). Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang perilaku perundungan, dampaknya, serta cara mencegahnya di lingkungan sekolah sebagai upaya penguatan karakter dan kesehatan mental sejak dini.
Kegiatan berlangsung di ruang kelas dan diikuti 38 siswa dari kelas IV-A dan IV-B. Suasana pembelajaran terlihat tertib dan interaktif. Para siswa aktif menjawab pertanyaan, berbagi pengalaman, dan mengikuti setiap rangkaian edukasi. Wali Kelas IV, Bapak Kaseri, menyampaikan apresiasinya terhadap program ini.
“Anak-anak jadi lebih paham bahwa mengejek atau mengucilkan teman itu termasuk bullying. Kegiatan seperti ini memang dibutuhkan di sekolah kami,” ujarnya.
Sebelum materi disampaikan, siswa mengikuti pre-test mengenai pengertian bullying, contoh perilaku, dan dampaknya. Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian siswa belum memahami bahwa ejekan, pengucilan, dan kekerasan verbal termasuk bentuk bullying.
Beberapa siswa bahkan menganggap ejekan sebagai candaan biasa. Materi kemudian diberikan secara interaktif melalui diskusi, contoh kasus, dan tanya jawab agar sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Pendekatan ini membantu mereka memahami bahwa bullying dapat muncul dalam bentuk fisik, verbal, maupun sosial.
Media Interaktif dan Penguatan Sikap
Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN menggunakan media interaktif seperti lagu anti-bullying, Pohon Ungkapan, dan Toples Pengalaman. Lagu anti-bullying membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan pesan penting tentang persahabatan. Siswa tampak antusias mengikuti gerakan dan lirik lagu yang menekankan sikap saling menghormati.
Pohon Ungkapan menjadi sarana refleksi bagi siswa. Mereka menuliskan perasaan, pengalaman, serta harapan terkait pertemanan yang sehat dan bebas bullying. Sementara itu, Toples Pengalaman berfungsi menampung cerita atau pengalaman bullying yang ditulis secara anonim, memberi ruang aman bagi siswa untuk bercerita tanpa rasa takut.
Kegiatan ditutup dengan deklarasi anti-bullying melalui penandatanganan banner komitmen bertuliskan “Saya berjanji tidak akan melakukan tindakan bullying.” Seluruh siswa menandatangani banner tersebut sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.
Setelah seluruh rangkaian selesai, siswa mengikuti post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai bullying dan cara mencegahnya.
Guru kelas berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga nilai-nilai saling menghormati semakin tertanam dalam perilaku siswa sehari-hari. Melalui psikoedukasi ini, diharapkan tercipta budaya sekolah yang positif dan bebas bullying sejak jenjang sekolah dasar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments