Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Filosofi Kupat Disorot Ustadz Dawam di Halalbihalal Keluarga Besar Ponpes Al-Ishlah Sendangagung 

Iklan Landscape Smamda
Filosofi Kupat Disorot Ustadz Dawam di Halalbihalal Keluarga Besar Ponpes Al-Ishlah Sendangagung 
Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Sendangagung, Drs KH. Muhammad Dawam Saleh membahas tentang makna dan filosofi kupat di halalbihalal Keluarga Besar Al-Ishlah, 27 Maret 2026. (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Filosofi kupat atau ketupat disorot dan dijelaskan oleh Pengasuh sekaligus Pendiri Ponpes Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur, Ustadz Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh di Halalbihalal Keluarga Besar Al-Ishlah Sendangagung, 7 Syawal 1447 hijriah yang bertepatan dengan  Jumat (27/3/2026).

Kegiatan yang digelar di Masjid Al-Ishlah ini dihadiri oleh pengurus yayasan Al-Ishlah Sendangagung, Dewan Pengurus Ponpes Al-Ishlah (DPPI), sesepuh dan tokoh Muhammadiyah, tenaga didik guru SMPM 12 Paciran, MA Al-Ishlah, Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) Al-Ishlah dan dosen dosen STIQSI Lamongan, karyawan, tukang bangunan.

Hadir pula Kades, Panut Supodo dan Sekdes Sendangagung, Suadi Muharom S.Pd.I, Ketua RT 004, Ahmad Hanif Sa’dullah, tetangga dan warga simpatisan Al-Ishlah.

Nampak hadir tokoh Muhammadiyah, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Dr. H. Piet Hizbullah Khaidir MA, Wakil Ketua PDM Lamongan, Drs. M.Anwar M.Pd, Wakil Ketua PCM Paciran Drs. KH. Agus Salim Syukran M.Pd.I, dan Fatchur Rohim S.Ag, S.Pd, Ketua Majelis Tabligh PCM Paciran, Ustadz Yusuf Abidin SQ, SHI.

Dalam moment suasana Hari Raya Idulfitri tersebut, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh yang akrab disapa Ustadz Dawam membahas tentang makna dan sejarah Halalbihalal yang dipopulerkan oleh presiden pertama RI, Soekarno pada tahun 1948.

“Nama “halalbihalal” berasal dari tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya dalam konteks Idulfitri. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, “halal” (حلال) yang berarti “diperbolehkan” dan “bihalal” (بيحلال) yang berarti “saling memaafkan”, ucap Ustadz Dawam mengawali ceramahnya.

“KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dianggap sebagai tokoh yang mempopulerkan dan melembagakan tradisi halalbihalal di Indonesia. Pada tahun 1948, Presiden Soekarno meminta saran KH. Wahab untuk mengatasi konflik politik dan perpecahan elite nasional. KH. Wahab menyarankan pertemuan dengan konsep “halalbihalal” untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturrahim,” ungkap kiai yang kini berusia 73 tahun ini.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Lebih rinci, ustadz Dawam juga membahas tentang makna dan filosofi kupat atau ketupat yang terbuat dari anyaman daun muda dari kelapa atau daun muda lontar atau Siwalan bagi warga Pantura Lamongan.

“Filosofi kupat menurut Sunan Kalijaga, terkait dengan konsep “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Kupat juga diartikan sebagai “laku papat”, yaitu empat tindakan utama dalam menyambut Lebaran,” jelas ayah 3 anak ini.

“Lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (saling memaafkan), dan laburan (menjaga kesucian diri),” imbuhnya.

Dia juga mengungkapkan, kupat juga memiliki makna simbolis, yaitu: Bentuk Segi Empat yang Melambangkan keseimbangan dan keterbukaan dalam menjalin hubungan sosial. Sunan Kalijaga juga memperkenalkan kupat sebagai media dakwah untuk mengajarkan nilai-nilai Islam seperti syukur, sedekah, dan silaturahmi. Tradisi kupat menjadi simbol pengakuan dosa, kejujuran, dan harapan akan kesucian hati. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡