Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

FKUB Jatim Ajak Hadapi Tantangan Kerukunan Umat Beragama di Era Post-Truth

Iklan Landscape Smamda
FKUB Jatim Ajak Hadapi Tantangan Kerukunan Umat Beragama di Era Post-Truth
Prof Biyanto saat menyampaikan materi (Andi Hariyadi/PWMU.CO)
pwmu.co -

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur menggelar acara Sosialisasi Tantangan Kerukunan Umat Beragama di Era Post-Truth, yang dihadiri oleh perwakilan FKUB dari kabupaten/kota di wilayah kerja Surabaya pada Sabtu (10/8/2025).

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran serta kolaborasi tokoh agama dan masyarakat dalam menjaga kerukunan di tengah tantangan era informasi yang semakin kompleks.

Acara berlangsung hangat dengan menghadirkan sejumlah narasumber dan tokoh agama. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur, Eddy Supriyanto, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kabid Ketahanan Ekososial Budaya, Agama dan Ormas, Agus Imantoro, menekankan pentingnya peran FKUB dalam menjaga keharmonisan.

“Di era post-truth ini, kerukunan harus terus dioptimalkan. Kehidupan yang rukun menciptakan keamanan dan kedamaian. Maka dari itu, keterlibatan FKUB sangat penting sebagai sarana evaluasi, komunikasi, dan konsolidasi. FKUB diharapkan mampu memetakan persoalan yang ada agar Jawa Timur tetap aman dan kondusif,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh FKUB dari Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sidoarjo, Mojokerto, Kota Mojokerto, dan Kota Surabaya.

Salah satu narasumber yang juga anggota FKUB Jatim dan Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Dr Biyanto membuka sesi diskusi dengan pertanyaan mendasar: “Mengapa kita harus rukun?.”

Para peserta aktif berdialog dan menyampaikan pandangannya bahwa kerukunan adalah keniscayaan dan perbedaan merupakan sunnatullah. “Kerukunan adalah modal untuk menjadi bangsa yang kuat, moderat, dan bermartabat,” ucap salah satu peserta.

Ia juga mengingatkan bahaya penyebaran informasi bohong atau hoaks yang marak di era post-truth. Ia mengutip al-Quran Surat an-Nur ayat 11-21, yang menekankan pentingnya klarifikasi (tabayun) dalam menerima informasi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Jangan bangga menjadi yang pertama menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, karena bisa menimbulkan masalah besar,” tegasnya.

Menurutnya, era post-truth ditandai oleh maraknya disinformasi, hoaks, dan bias media sosial, di mana opini dikonstruksi atas dasar kepentingan tertentu dan dianggap sebagai kebenaran.

Sementara itu, anggota FKUB Jatim lainnya, Prof I Nyoman, menambahkan pentingnya pendidikan karakter, khususnya kejujuran, sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang rukun. Ia menyebut ada empat elemen utama pendidikan persatuan bangsa: orang tua, sekolah, pemerintah, dan tokoh agama.

Diskusi semakin hidup saat Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim sekaligus moderator, Dr Udji Asiyah membuka ruang dialog interaktif. Ia juga menyampaikan informasi seputar kegiatan FKUB kabupaten/kota, termasuk strategi kerukunan, pendirian rumah ibadah, isu Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan (SARA) di media sosial, pembinaan dan pemberdayaan eks narapidana terorisme, hingga pentingnya dukungan anggaran bagi program FKUB.

Sebagai penutup, Agus Imantoro menyampaikan bahwa persoalan keagamaan sangat dinamis dan bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan jika tidak ditangani secara bijak.

“Jangan sampai kita hanya seperti pemadam kebakaran, dibutuhkan hanya saat ada masalah. Peran FKUB sangat penting dan harus terus dioptimalkan. Maka, sinergi dan komunikasi harus dibangun dengan baik, termasuk dalam hal dukungan anggaran,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu