
PWMU.CO – Kegiatan Forum Ta’aruf Santri (Fortasi) 2025 Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan Putra resmi ditutup pada Sabtu (19/7/2025) malam. Penutupan berlangsung di halaman utama Al Mizan Putra dengan penuh kekeluargaan dan haru.
Acara ini dihadiri oleh Mudir Al Mizan, Wakil Mudir, Kepala Kesantrian Putra, jajaran dewan ustadz, serta seluruh santriwan Al Mizan.
Dalam sambutannya, Kepala Kesantrian Putra, Ustadz Husnul Aqib, menyampaikan pesan hangat dan reflektif kepada para santri, khususnya santri baru. Ia menekankan pentingnya proses adaptasi di pondok sebagai bagian dari perjalanan menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
“Awal kedatangan kalian ke pondok ini tentu serba asing. Lingkungan, teman-teman, kakak kelas, bahkan para guru. Tapi kini, dalam waktu sepekan, kalian sudah menjadi bagian dari keluarga besar Al Mizan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kehadiran para santri dari berbagai daerah, baik dari Lamongan Selatan, Utara, maupun Tengah, bahkan luar Jawa merupakan bukti nyata bahwa Allah menciptakan manusia dengan keragaman untuk saling mengenal, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (Qs al-Hujurat: 13)
Lebih lanjut, Ustadz Aqib membagikan kisah-kisah menarik dari para santri baru selama masa Fortasi. “Santri sejati bukan yang tidak pernah menangis, tapi yang tetap bertahan di pondok meski dengan air mata. Kami para ustadz siap menjadi pengganti orangtua di rumah: menjadi ibu saat kalian rindu, dan menjadi sahabat saat kalian menghadapi masalah,” tuturnya.
Ia juga mengajak para santri untuk keluar dari zona nyaman sebagai kunci menuju kesuksesan.
“Di rumah, kalian mungkin dilayani, tidak perlu antre mandi atau mencuci sendiri. Sekarang semuanya harus dilakukan sendiri. Itu namanya hijrah. Dan hijrah itu adalah tanda kalian adalah manusia pilihan. Al-muhajir man hajjaro mana—orang yang hijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang baginya,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Ustadz Aqib menyampaikan bahwa mondok tidak serta-merta menjamin kesuksesan, namun menjadi jalan ikhtiar untuk meraih ridha Allah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan fokus menuntut ilmu.
“Semoga semua santri baru semakin semangat dan istiqamah dalam menjalani proses pendidikan dan pembinaan di Al Mizan. Pondok yang awalnya terasa asing dan menyeramkan, insyaallah akan menjadi tempat yang kelak dirindukan,” pungkasnya. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments