Forum Gawagis Muhammadiyah menyelenggarakan Kongres Nasional dan Tabligh Akbar ke-1 di Yogyakarta, Ahad (25/1/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Ke Yogyakarta Kita Kembali, Kebangkitan Ulama Muhammadiyah Kita Mulai.” Yogyakarta dipilih karena memiliki nilai historis sebagai ibu kota Muhammadiyah.
Rangkaian acara diawali dengan sidang pleno yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WIB. Dalam sidang tersebut ditetapkan Gus Aziz Musthofa Muhammad sebagai Mustasyar A’la dan Gus Ibnu Yusuf bin Kholil sebagai Munasiq A’la Forum Gawagis Muhammadiyah.
Selain penetapan kepengurusan, kongres juga menghasilkan beberapa pernyataan sikap organisasi. Di antaranya terkait pendampingan hukum terhadap anggota Forum Gawagis Muhammadiyah, Muhammad Dika Perkasa, yang tengah menghadapi persoalan rumah tangga dan dugaan pemerasan yang berujung proses hukum.
Forum juga menyatakan sikap atas kasus dugaan pelecehan yang dialami keluarga salah satu anggota Gawagis Muhammadiyah di wilayah Banyumas, dengan mendorong agar persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum secara adil dan tidak berlarut-larut.
Usai sidang pleno, kegiatan dilanjutkan dengan Tabligh Akbar yang menghadirkan dua dai, yakni Gus Sholahuddin Zuhri dari Muhammadiyah dan KH Ajir Ubaidillah dari Nahdlatul Ulama. Dalam tausiyahnya, para penceramah membahas pentingnya menyikapi perbedaan pandangan antara ulama Muhammadiyah dan NU secara bijak, dengan merujuk pada keteladanan para ulama salaf serta semangat ukhuwah Islamiyah.
Kegiatan ini diikuti ratusan Gus, dzuriyah ulama pendiri dan penggerak Muhammadiyah, serta para simpatisan dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara luring maupun daring. Peserta berasal dari beragam latar belakang keluarga ulama, di antaranya keluarga KH Ahmad Dahlan, keluarga Maskumambang, keluarga KH Abdurrahman Syamsuri Karangasem, keluarga KH Zen, dan lainnya.
Kongres Nasional dan Tabligh Akbar I Forum Gawagis Muhammadiyah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya LIM Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Bisnis Indonesia, serta keluarga Ajengan Mohammad E. Hasyim, tokoh Muhammadiyah Jawa Barat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments