Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gandeng SuaR Indonesia, IMM Psikologi Unmuh Jember Komitmen Advokasi Isu Perkawinan Anak

Iklan Landscape Smamda
Gandeng SuaR Indonesia, IMM Psikologi Unmuh Jember Komitmen Advokasi Isu Perkawinan Anak
pwmu.co -
diskusi publik

PWMU.CO – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember menunjukkan komitmen serius terhadap isu perkawinan anak di Kabupaten Jember.

Melalui Forum Cendekia Muslim (FCM), IMM Psikologi menggandeng Suar Indonesia untuk menggelar diskusi publik bertajuk “Pilar Religiusitas sebagai Ruang Cendekia Madani”, Minggu (27/07/2025).

Kegiatan yang terhadiri para siswa SMP dan SMA ini menjadi wadah edukatif sekaligus advokatif. Mereka menyoroti bahaya serta dampak serius dari praktik perkawinan anak yang masih marak terjadi.

Isu Strategis Daerah

Kabid Perkaderan IMM Psikologi Fajar Devan Anugrah menegaskan bahwa isu perkawinan anak tidak bisa tersepelekan. Ia menyebut, isu ini sudah masuk dalam daftar strategis Pemerintah Daerah Jember karena dampaknya sangat serius terhadap masa depan anak-anak dan remaja.

“Masalah ini telah merampas hak-hak dasar anak, terutama hak pendidikan dan perlindungan. Kami dari IMM Psikologi tidak ingin berpangku tangan. Karena itu kami menggandeng SuaR Indonesia untuk bersama-sama menekan angka perkawinan anak” ujarnya.

Budiman Widyanarko, Program Manajer Power To Youth Suar Indonesia Jember, memaparkan bahwa perkawinan anak telah menjadi bencana sosial yang nyata. Meski tidak tampak secara kasat mata seperti bencana alam.

Menurutnya, perkawinan anak akibat perjodohan orangtua, tekanan budaya, atau norma adat tidak bisa diremehkan. Ini bukan lagi ancaman, tapi sudah menjadi bencana. Dampaknya luas mulai dari pendidikan yang putus, kondisi ekonomi yang tidak siap, hingga kesehatan biologis dan psikologis anak” jelasnya dalam forum.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Suara dari Remaja: Kami Menolak Pernikahan Anak

Imas, salah satu peserta dari anggota Squad PKRS Kabupaten Jember, mengungkapkan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja agar mereka paham dan siap menolak perkawinan paksa.

“Masih banyak remaja yang tidak memahami risiko perkawinan anak, apalagi jika terjadi karena perjodohan atau tekanan adat. Kita harus berani menolak dan menyuarakan bahwa ini berbahaya” tegasnya.

Selain edukasi, forum ini juga menghadirkan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan peserta untuk menggali pandangan dan usulan solusi terhadap isu perkawinan anak. Usulan tersebut akan terkaji dari perspektif akademis oleh IMM Psikologi dan tersusun menjadi rekomendasi kebijakan publik.

Fajar Devan menambahkan, hasil FGD akan menjadi bagian dari kajian strategis yang rencananya tersampaikan kepada dinas terkait dan pemangku kebijakan sebagai bentuk kontribusi nyata IMM dalam advokasi hak anak.

“Kita harus mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada anak dan remaja, serta melibatkan mereka sebagai subjek yang didengar, bukan objek yang dikorbankan” pungkasnya.

Penulis Khoirul Anam, Editor Danar Trivasya Fikri

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu