Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gembira dan Berkesadaran, Siswa Nonmuslim Smamsatu Gresik Ikuti Pembelajaran Akhlak

Iklan Landscape Smamda
Gembira dan Berkesadaran, Siswa Nonmuslim Smamsatu Gresik Ikuti Pembelajaran Akhlak
Para siswa saat sedang roleplay tokoh-tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik tidak melulu berfokus pada hafalan dan teori. Melalui pendekatan kreatif seperti dramatisasi dan roleplay, sekolah ini berhasil menjadikan materi akhlak sebagai pembelajaran yang mendalam sekaligus menyenangkan, bahkan bagi siswa non-Muslim.

Dalam salah satu sesi kelas pada Kamis (28/8/2025) seorang siswa Kristen tampak antusias dan berkesadaran saat mempelajari materi Syu’abul Iman atau 77 cabang keimanan.

Melalui arahan dari guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba), Pak Islah, dijelaskan bahwa pembelajaran Al-Islam diupayakan untuk menjadi proses yang bermakna, menggembirakan, dan membangkitkan kesadaran spiritual serta moral siswa.

“Kami tidak ingin siswa hanya sekadar menghafal, karena hal itu justru sering menjadi momok yang membuat pelajaran Al-Islam terasa menakutkan, menjenuhkan, dan membosankan. Kami ingin agar pelajaran Al-Islam benar-benar mampu diresapi dan diinternalisasikan oleh siswa sebagai nilai-nilai akhlak dalam kehidupan mereka. Harapannya, mereka justru merindukan momen belajar Al-Islam,” ujarnya.

Dalam pembelajaran materi Syu’abul Iman, ia menerapkan metode yang inovatif dan partisipatif. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk memerankan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah, seperti K.H. Ahmad Dahlan, Siti Walidah, Buya Hamka, A.R. Fakhruddin, Soekarno, dan Fatmawati.

Setiap siswa yang memerankan tokoh tersebut diminta untuk berdialog dan berinteraksi, sekaligus mempraktikkan secara langsung nilai-nilai keimanan dan akhlak yang telah mereka pelajari.

“Metode ini membuat siswa bergembira dan menyadari bahwa akhlak itu harus dipraktikkan, bukan sekadar dihafalkan. Inilah yang membuat pelajaran Al-Islam menjadi sesuatu yang dirindukan, bukan lagi pelajaran yang membosankan atau ditakuti,” jelasnya.

Dalam kegiatan roleplay tersebut, seorang siswa beragama Kristen dengan sukarela mengambil peran sebagai salah satu tokoh. Ia tampak antusias dan senang saat berinteraksi dengan teman-temannya yang Muslim, mencerminkan semangat inklusivitas dan toleransi dalam pembelajaran.

Dalam salah satu adegan, ia bahkan melontarkan pertanyaan reflektif tentang pentingnya persaudaraan, menunjukkan bahwa keikutsertaannya bukan sekadar ikut-ikutan. Ia benar-benar memahami makna yang terkandung dalam pembelajaran tersebut.

“Akhlak tidak mengenal sekat agama. Ketika kita mengajarkannya dengan cara yang menyenangkan dan relevan, semua siswa apa pun latar belakang agamanya bisa mengambil manfaat,” tutur Pak Islah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ia menambahkan, pendekatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis akhlak mampu menjangkau semua kalangan serta menciptakan ruang kelas yang toleran dan inklusif.

Refleksi Mendalam setelah Dramatisasi

Di akhir sesi pembelajaran, Pak Islah memandu sesi refleksi mendalam untuk memastikan bahwa nilai-nilai akhlak benar-benar meresap dalam diri siswa. Dalam suasana tenang, para siswa diminta duduk melingkar dan menjawab sejumlah pertanyaan reflektif, di antaranya:

  • Cabang iman apa yang paling menonjol dari peran yang kalian tampilkan?.

Para siswa merespons dengan antusias, menyebutkan nilai-nilai seperti Al-Ikhlas (keikhlasan) yang mereka lihat dalam sosok K.H. Ahmad Dahlan saat mendirikan Muhammadiyah, atau Al-Hikmah (kebijaksanaan) yang terpancar dari dialog Siti Walidah dalam peran yang dimainkan.

  • Apa manfaat mengamalkan cabang iman tersebut dalam kehidupan nyata, terutama seperti yang dicontohkan oleh tokoh Muhammadiyah?.

Seorang siswa menjawab, “Jika kita ikhlas seperti KH Ahmad Dahlan, kita tidak akan mudah putus asa saat menghadapi tantangan.”

Sementara Siswa lain menambahkan, “Belajar dari Fatmawati, kita harus berani mengambil peran dalam masyarakat, bukan hanya berdiam diri.”

  • Apa kesulitan yang kalian rasakan saat memerankan tokoh dan mengaplikasikan nilai-nilai keimanan tersebut?.

Seorang siswa Kristen yang turut berperan mengungkapkan, “Awalnya saya merasa canggung. Namun setelah mempraktikkannya, saya sadar bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kebijaksanaan, dan kepedulian itu bersifat universal. Kesulitannya hanya pada awalnya, setelah itu terasa sangat bermakna.”

Refleksi ini menegaskan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada pementasan semata, melainkan terus berlanjut dalam pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai yang telah mereka pelajari, mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, serta menyadari bahwa akhlak merupakan fondasi penting dalam kehidupan, melampaui batas-batas perbedaan keyakinan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu