Search
Menu
Mode Gelap

Gen Z dan Arah Baru Kesadaran Kolektif

pwmu.co -
Oleh Indy Alfin Faujie – Ketua Bidang Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Banyumas

PWMU.CO – Generasi Z atau Gen Z adalah generasi yang lahir antara pertengahan 1990 hingga awal 2010. Mereka saat ini merupakan aktor utama dalam perubahan sosial, teknologi, ekonomi, dan budaya yang serba instan. Lahir dan tumbuh tumbuh mereka ada dalam era disrupsi, sebuah masa ketika tatanan lama tak lagi relevan, dan inovasi hadir dengan cepat. Perubahan bukan lagi sesuatu yang di tunggu, melainkan terus berlangsung setiap waktu. 

Dalam konteks ini, paradigma berpikir Gen Z terbentuk dari lingkungan yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Terutama dalam memaknai identitas, eksistensi, nilai-nilai, hingga relasi dengan sesama dan dunia secara luas.

Paradigma berpikir Gen Z sangat terpengaruh oleh kedekatan mereka dengan teknologi digital. Sejak usia dini, mereka telah terbiasa berinteraksi dengan perangkat seperti gawai, komputer, internet, dan media sosial. Bagi mereka, dunia virtual bukan sekadar pelarian, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari realitas. Mereka tidak lagi memandang adanya batas yang jelas antara dunia nyata dan dunia maya.

Percakapan di grup WhatsApp dianggap sama seriusnya dengan diskusi di ruang kelas, dan pengakuan dari teman di media sosial seringkali memiliki dampak yang lebih besar daripada apresiasi langsung dari lingkungan sekitar. Fenomena ini membentuk pola pikir yang sangat visual, cepat, multitasking, dan bergantung pada respons instan. Generasi Z cenderung berpikir melalui gambar, emoji, infografik, dan video pendek, bukan melalui paragraf panjang atau narasi tunggal.

Namun, kemudahan akses informasi yang mereka miliki tidak otomatis menjadikan mereka lebih bijak dalam menyerap pengetahuan. Sebaliknya, mereka yang hidup di tengah banjir informasi ini justru sering  menciptakan kebingungan epistemologis tentang apa yang benar, dari mana sumbernya, dan apakah informasi tersebut layak dipercaya. 

Pada sisi tertentu, mereka menunjukkan kemampuan literasi digital yang tinggi, misalnya: cepat mencari informasi, menganalisis sumber, bahkan menciptakan konten tandingan. Tapi pada sisi lain, mereka justru mudah terjebak dalam bias konfirmasi dan narasi populis yang viral di media sosial. Algoritma digital memaksa mereka hidup dalam filter bubble, hanya melihat dan mendengar apa yang sudah mereka yakini sebelumnya. Fenomena ini menghambat kemampuan berpikir kritis yang sejati, karena tidak semua informasi terproses dalam logika objektif, melainkan dalam arena emosi dan keterikatan identitas.

Identitas, dalam konteks Gen Z, bukanlah sesuatu yang kaku atau ditentukan secara struktural. Mereka memandang identitas sebagai konstruksi personal yang terus berubah. Mereka bisa merasa nyaman sebagai individu yang memiliki lebih dari satu identitas sekaligus: seorang pelajar yang juga influencer, seorang aktivis lingkungan yang juga penggemar K-Pop, atau seorang Muslim yang juga kritis terhadap wacana keagamaan. 

Bagi mereka, hidup adalah perjalanan membentuk dan membentuk ulang identitas. Mereka tidak merasa perlu mengikuti norma tertentu hanya karena itu adalah ‘aturan masyarakat.’ Sebaliknya, mereka akan bertanya, mengapa norma itu ada? Siapa yang membuatnya? Apakah masih relevan untuk diterapkan hari ini?

Paradigma berpikir ini membawa konsekuensi besar terhadap cara mereka menjalani kehidupan sosial. Gen Z cenderung menolak sistem sosial yang rigid dan otoritatif. Mereka tidak mudah tunduk hanya karena seseorang memiliki jabatan tinggi atau gelar akademik mentereng. Otoritas bagi mereka ditentukan oleh integritas, keaslian, dan relevansi. Mereka akan mendengarkan pemimpin yang menunjukkan kepedulian nyata, yang mampu berbicara dengan bahasa mereka, dan yang tidak takut untuk mengakui kesalahan. Ini terlihat dalam tren di tempat kerja atau komunitas, Gen Z lebih menyukai pemimpin yang berperan sebagai fasilitator daripada komando, yang membangun ruang diskusi daripada sekadar memberi instruksi.

Di dunia pendidikan, cara berpikir Gen Z menuntut perubahan fundamental dalam pendekatan pengajaran. Kurikulum yang kaku, sistem evaluasi berbasis hafalan, dan metode satu arah sudah tidak lagi efektif. Mereka membutuhkan pendidikan yang dialogis, partisipatif, dan kontekstual. Mereka ingin memahami alasan di balik materi yang diajarkan, mengaitkannya dengan realitas sosial, serta berikan ruang untuk berkreasi dan mengekspresikan pikiran secara bebas. 

Guru atau dosen tidak bisa lagi hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga harus menjadi mitra berpikir dan pembimbing nilai. Sayangnya, sistem pendidikan kita sering kali belum siap menghadapi perubahan paradigma ini. Banyak guru masih menuntut ketaatan tanpa kritik, membatasi ruang diskusi, bahkan menganggap sikap kritis sebagai bentuk pembangkangan. Ini menciptakan jarak emosional antara pendidik dan peserta didik, dan memperparah hilangnya makna belajar di kalangan Generasi Z.

Dalam relasi sosial, Gen Z tampak lebih egaliter dan terbuka terhadap perbedaan. Mereka tidak mudah menil

Iklan Landscape UM SURABAYA

ai seseorang hanya berdasarkan agama, suku, orientasi seksual, atau latar belakang ekonomi. Mereka lebih fokus pada kualitas personal, kontribusi nyata, dan keaslian seseorang. Ini membuat mereka lebih terbuka, pergaulannya lebih melintas batas, dan tidak kaku terhadap stereotip sosial. 

Namun disisi lain, keterbukaan ini sering menimbulkan konflik dengan generasi sebelumnya yang cenderung konservatif. Ketika nilai tradisional berbenturan dengan kebebasan individu, seringkali muncul kesalahpahaman dan memperlebar jurang antar generasi. Generasi tua merasa bahwa Gen Z terlalu bebas, terlalu kritis, bahkan kehilangan arah. Sebaliknya, Gen Z merasa bahwa generasi tua terlalu menghakimi, menutup ruang dialog, dan terjebak nostalgia masa lalu yang tak lagi relevan.

Krisis eksistensialis

Kecenderungan Gen Z untuk memaknai hidup secara personal juga berkaitan dengan munculnya fenomena krisis eksistensial yang cukup luas. Meskipun memiliki akses terhadap begitu banyak peluang dan pilihan hidup, banyak dari mereka yang kesepian, cemas, dan kehilangan makna hidup. Ini terlihat dari meningkatnya angka gangguan kesehatan mental di kalangan remaja dan dewasa muda, seperti depresi, anxiety disorder, bahkan keinginan bunuh diri. 

Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan dalam memilih identitas, gaya hidup, dan nilai-nilai, jika tanpa bimbingan yang mendalam, dapat menimbulkan kekosongan batin. Di tengah dunia yang serba cepat dan kompetitif, individu harus terus menjadi sosok yang produktif, menarik, sukses, dan relevan. Namun, di saat yang sama, mereka kehilangan waktu untuk merenung, merawat batin, dan memahami jati diri mereka yang sesungguhnya.

Maka, memahami cara berpikir Gen Z tidak cukup hanya dengan mengamati perilaku luarnya saja. Kita perlu masuk ke ruang batin mereka, memahami struktur pengalaman hidup mereka yang berbeda, serta mendengarkan suara mereka tanpa prasangka. Mereka bukan generasi yang lemah, apatis, atau manja. Mereka adalah produk dari zaman yang penuh tantangan baru. Dunia yang membesarkan mereka adalah dunia yang cepat berubah, penuh tekanan sosial, dan sarat dengan informasi yang membingungkan. 

Tapi inilah sisi keunikan dan kekuatan Gen Z. Mereka adalah generasi yang lincah, cerdas secara emosional, kreatif, dan sangat berpotensi untuk membawa perubahan.(*)

Editor Notonegoro

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments