Protes tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kejanggalan. Ia hadir di tengah kondisi yang tidak menentu. Saat mata dipaksa melihat arogansi kekuasaan, telinga dibuat bising oleh retorika penuh omong kosong, protes menjadi sikap untuk menyangkal keadaan yang digelapkan.
Ia hadir sebagai tekanan untuk mengubah keadaan menjadi cerah dengan harapan yang lebih terang dan pasti.
Protes adalah bunyi dari suara-suara sunyi yang selama ini dipendam di tengah ketimpangan, untuk menentukan arah kebijakan yang lebih adil.
Sejarah Gerakan Pemuda
Sejarah mencatat bahwa gerakan protes sering dipelopori oleh anak-anak muda, terutama mahasiswa. Sejak masa kebangkitan nasional, Boedi Oetomo menjadi pelopor kesadaran nasional. Pada era kemerdekaan, gelora proklamasi lahir dari desakan kaum muda. Hal yang sama terjadi pada angkatan ’66 dan reformasi 1998. Peran anak muda selalu menentukan arah perubahan.
Lingkungan kampus menjadi saksi sejarah. Di sanalah gagasan dimasak, tidak hanya diperdebatkan, melainkan diperjuangkan. Dari kampus, lahir kesadaran kritis yang berubah menjadi sikap perlawanan.

Wajah Baru Gerakan Protes
Kini gerakan protes tidak hanya diwarnai mahasiswa. Anak-anak pelajar turut masuk dalam barisan perlawanan politik bersama buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat miskin kota. Meski masih muda, tekad mereka tidak bisa diremehkan.
Berbeda dengan mahasiswa yang berangkat dari kajian akademik, protes pelajar lahir dari kenyataan sehari-hari yang ganjil. Mereka tidak mengenal teori Marx, Habermas, atau Gramsci. Namun, mereka muak melihat penyalahgunaan kekuasaan, jengah dengan komunikasi politik yang arogan, skeptis pada kebijakan yang tak berpihak pada rakyat, serta geram pada tindakan represif aparat.
Dari Kelas ke Jalanan
Di tengah hidup yang janggal, diam adalah pengkhianatan terhadap nurani. Para pelajar memahami ketidakadilan tanpa harus menunggu usia dewasa. Mereka menolak tunduk pada ketakutan yang dipelihara sistem.
Seragam putih-abu tidak lagi hanya simbol pelajar, melainkan simbol perlawanan. Mereka bertahan meski suara serak, baju lusuh, basah oleh keringat, dan sesak karena gas air mata. Bagi mereka, politik bukan sekadar debat di layar kaca, melainkan keberanian menyuarakan yang dipendam.
Protes sebagai Alarm Demokrasi
Banyak yang menilai gerakan pelajar hanyalah pelampiasan emosi remaja yang labil. Namun justru dari langkah mereka yang belum mantap, tersimpan kejujuran yang sulit ditemukan di ruang-ruang parlemen.
Mereka melihat politik dari kacamata konkret: ayah kehilangan pekerjaan, ibu kesulitan menyiapkan sarapan, saudara kelelahan mencari kerja. Ketidakadilan bukan teori, tapi kenyataan. Karena itu, jalanan menjadi pilihan untuk menyuarakan harapan.
Gerakan protes pelajar adalah alarm demokrasi. Ia menjadi tanda bahwa nafas demokrasi masih hidup. Meskipun kini mereda, bukan berarti perjuangan usai. Protes adalah penolakan untuk tunduk pada sunyi yang membunuh nurani.
Ingat, dari gerakan ini ada nyawa yang hilang, ada pelajar yang belum dipulangkan. Dari mereka kita belajar: menjaga harapan adalah kewajiban, dan protes adalah nafas bagi demokrasi.





0 Tanggapan
Empty Comments