Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gerhana Bulan di UMSURA, Menanti Rembulan di Balik Awan

Iklan Landscape Smamda
Gerhana Bulan di UMSURA, Menanti Rembulan di Balik Awan
Gerhana Bulan di UMSURA, Menanti Rembulan di Balik Awan, Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Fenomena Gerhana Bulan Total pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah, menjadi momentum refleksi ilmiah dan spiritual di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA).

Kegiatan bertajuk “Menanti Rembulan di Balik Awan” ini diselenggarakan oleh Klub Astronomi Galator bekerja sama dengan Masjid Al-Khoory UMSURA. Selain pengamatan astronomi, acara juga dirangkai dengan pelaksanaan Shalātu Khusūf atau shalat gerhana bulan.

Observasi Dimulai Sejak Sore Hari

Kegiatan pengamatan dimulai pukul 16.00 WIB, bertepatan dengan mendekatinya fase Gerhana Sebagian Awal. Tim pengamat menggunakan teleskop Zenithstar 71mm Doublet ED sebagai instrumen utama observasi.

Seluruh peralatan telah dipersiapkan secara matang. Teleskop dipasang dan diarahkan ke posisi bulan berdasarkan perhitungan astronomis yang telah dilakukan sebelumnya. Secara teori, proses pengamatan diprediksi berjalan optimal karena fase-fase gerhana telah diketahui secara presisi.

Namun, kondisi alam berkata lain.

Menjelang proses pengamatan berlangsung, hujan deras turun disertai awan tebal yang menutup langit Surabaya. Visibilitas objek pengamatan pun terhambat sepenuhnya.

Tim segera mengamankan peralatan dengan menutup teleskop dan menunda proses observasi demi menjaga keselamatan instrumen.

Berbuka Puasa dan Shalat Berjamaah

Setelah hujan turun, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan berbuka puasa bersama. Jamaah kemudian melaksanakan shalat Magrib berjamaah di Masjid Al-Khoory.

Suasana Ramadan menambah kekhusyukan malam tersebut. Fenomena gerhana yang secara ilmiah dapat dijelaskan melalui pergerakan bumi, bulan, dan matahari, juga dimaknai sebagai tanda kebesaran Allah SWT.

Shalātu Khusūf menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan, mempertemukan dimensi ilmiah dan spiritual dalam satu momentum.

Fase Total yang Tak Tersaksikan

Berdasarkan data astronomis, fase Gerhana Total dimulai pada pukul 18.04 WIB dan berlangsung hingga pukul 19.02 WIB. Pada fase ini, bulan biasanya tampak berwarna kemerahan akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Fenomena tersebut sering disebut sebagai “Blood Moon” atau bulan merah.

Namun, meskipun hujan telah reda, langit Surabaya masih diselimuti awan tebal. Hingga fase akhir gerhana pada pukul 20.17 WIB, bulan tidak dapat diamati secara langsung.

Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan membuat tim observasi tidak berhasil mendapatkan citra bulan hingga fase akhir gerhana.

Antusiasme Tetap Tinggi

Meskipun pengamatan visual tidak berhasil dilakukan, kegiatan ini tetap menarik minat banyak peserta. Pengunjung yang hadir berasal dari civitas akademika UMSURA maupun masyarakat umum.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap astronomi dan fenomena langit di kalangan masyarakat masih tinggi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi bahwa dalam ilmu astronomi, faktor cuaca merupakan variabel yang tidak dapat dikendalikan. Observasi lapangan selalu bergantung pada kondisi atmosfer.

Namun di balik langit yang tertutup awan, semangat keilmuan dan kebersamaan tetap menyala.

Gerhana mungkin tak terlihat secara kasat mata, tetapi nilai pembelajaran dan refleksi spiritual tetap hadir di tengah jamaah yang menanti rembulan di balik awan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu