
PWMU.CO – Dalam kebudayaan Nusantara, guru disebut juga dengan “digugu dan ditiru”. Artinya, ia dipercaya ucapan dan tindakannya dicontoh. Kebudayaan ini sejajar dengan ajaran Islam yang menuntut seorang guru bukan hanya alim, tetapi juga berakhlak mulia.
Rasulullah Saw sendiri adalah “guru peradaban”, yang tidak hanya mengajarkan wahyu, tetapi juga menunjukkan keteladanan. Allah menegaskan “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (QS. Al-Ahzab: 21).
Dalam nilai kebudayaan lokal, guru dihormati bukan karena jabatan, tapi karena pengabdiannya. Mereka menjaga warisan ilmu dan nilai, bahkan saat hidup dalam kesederhanaan. Dalam Islam, guru menempati posisi yang sangat mulia. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembina akhlak, pembimbing ruhani, dan penggerak perubahan sosial.
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Dalam konteks ini, guru—terutama yang mengajarkan ilmu agama—dapat dimaknai sebagai bagian dari ulama. Mereka mewarisi tugas kenabian dalam menyampaikan ilmu dan memperbaiki umat. Islam memberikan tempat yang tinggi bagi guru. Dalam al Quran, Nabi Muhammad SAW disebut sebagai mu’allim (pengajar), mudzakkir (pemberi peringatan), dan murabbi (pendidik jiwa). Beliau menjadi teladan utama dalam akhlak, keteguhan hati, dan kasih sayang terhadap umatnya.
Dalam sejarah Islam, para ulama, kiai, dan guru bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi pemimpin masyarakat yang dihormati. Begitu pula dalam budaya Indonesia, guru dianggap sebagai orang tua kedua.
Ungkapan “Guru, digugu lan ditiru” dalam budaya Jawa mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap profesi ini.
Maka dari itu, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah moral dan spiritual. Guru tidak hanya bertanggung jawab kepada institusi pendidikan, tetapi juga kepada Tuhan dan generasi masa depan.
Karena itu, guru perlu meningkatkan kapasitas diri agar tetap relevan. Guru harus mampu menjadi sahabat berpikir bagi siswanya, menjadi pendengar yang empatik, dan terus menyesuaikan metode mengajarnya dengan perkembangan zaman.
Menjadi Integritas
Menjadi pendidik dan teladan juga berarti menjaga integritas di tengah godaan pragmatisme. Ketika banyak nilai dikaburkan oleh kepentingan materi atau politik, guru harus tetap berdiri sebagai penjaga nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan.
Era modern, peran guru sebagai pendidik dan teladan semakin diuji. Arus informasi yang begitu deras, media sosial yang penuh distraksi, dan nilai-nilai instan yang merasuki generasi muda membuat tugas guru semakin berat.
Siswa kini tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari internet, influencer, dan lingkungan yang tidak selalu sehat.
Menumbuhkan Budaya Sekolah yang Berkarakter
Peran guru sebagai pendidik dan teladan tidak bisa berjalan sendirian. Sekolah sebagai ekosistem pendidikan harus mendukung terbentuknya budaya positif yang mendidik. Kepala sekolah, staf, dan seluruh elemen sekolah harus saling bersinergi untuk membentuk lingkungan yang ramah, inspiratif, dan penuh keteladanan.
Program pembiasaan, kegiatan keagamaan, disiplin kolektif, hingga penghargaan atas perilaku positif adalah bentuk konkret bagaimana nilai-nilai pendidikan dihidupkan dalam keseharian siswa.
Menjadi guru adalah kehormatan. Menjadi pendidik dan teladan adalah pengabdian. Dalam ketekunan guru, lahirlah pemimpin, ilmuwan, ulama, dan orang-orang bijak yang membawa cahaya bagi umat manusia.
Perubahan besar dalam sejarah seringkali dimulai dari ruang-ruang kecil yang dipenuhi oleh cahaya ilmu dan cinta. Guru adalah penjaga cahaya itu. Melalui peran sebagai pendidik dan teladan, guru tidak hanya mengubah nasib satu anak, tetapi juga mengubah arah peradaban.
Seorang guru sejati mengajar bukan hanya dengan kata, tetapi dengan perbuatan. Ia menyalakan cahaya dalam gelapnya kebodohan, dan menunjukkan jalan di tengah kabut kebimbangan. (*)
Penulis Fathurrahim Syuhadi Editor Amanat Solikah


0 Tanggapan
Empty Comments