
PWMU.CO – Guru Sekolah Pesantren Entrepreneur Al-Maun Muhammadiyah (SPEAM) dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan belajar mengelola masjid ke Jogokaryan, Kamis (4/7/2024).
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian studi tiru yang dilaksanakan guru dan karyawan SPEAM serta jajaran PDM kota Pasuruan, selain ke Pesantren Imam Syuhodo dan kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Rombongan SPEAM tiba di masjid Jogokaryan menjelang sholat subuh, setelah pada malamnya menginap di hotel Suara Muhammadiyah Malioboro.
Perjalanan menuju lokasi menggunakan bis.
Sesampainya di lokasi, ruangan masjid sudah hampir penuh oleh jamaah yang berasal dari masyarakat setempat dan beberapa dari pengunjung yang berasal dari luar Yogyakarta.
Selesasi sholat subuh, seorang ustadz menuju mimbar di samping mihrab dan menyampaikan kultum selama kurang lebih sepuluh menit tentang Yunus bin Ubaid.
Rombongan SPEAM kemudian dipersilakan ke lantai dua untuk menyimak pemaparan pengelolaan masjid dari pengurus masjid Jogokaryan.
Sekretaris masjid Jogokaryan, Haidar Muhammad hadir menyambut dan menyampaikan materi pengelolaan masjid.
Fokus memakmurkan masjid bukan bangunannya
Di awal paparannya, Haidar menyampaikan bahwa masjid makmur adalah yang selalu ramai dikunjungi jamaah sholat lima waktu.
“Orang senang sholat dan beraktivitas di dalamnya. Selain itu masjid juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” terangnya.
Inspirasinya tersebut imbuhnya berasal dari kisah Nabi Ibrahim yang berdoa supaya Makkah menjadi tempat yang diberkahi dan dijadikan tempat untuk sholat.
Tapi alih-alih makmur, realitanya banyak masjid sepi dari jamaah.
Pertanyaannya adalah Bagaimana selanjutnya menjadikan orang untuk sholat?
Haidar lalu menyampaikan bahwa di kemenag terdapat direktorat haji tapi tidak ada direktorat yang mengurusi sholat.
Artinya di kemenag sendiri tidak ada direktorat yang mengurusi bagaimana supaya orang mau sholat.
Haidar menyampaikan, banyak persepsi yang keliru di tengah masyarakat, yaitu mengurusi masjid hanya sekadar mempercantik bangunan dan tidak memakmurkan masjid dalam arti sebenarnya.
Padahal, lanjutnya Nabi Muhammad ketika membangunan masjid tidak memprioritaskan bangunan tetapi memerintahkan untuk mensejahterakan masyarakat sekitar.
Faktanya banyak masjid memilki saldo milyaran tapi masyarakat sekitarnya masih kelaparan.
Hal tersebut membuat masyarakat menyimpulkan bahwa masjid tidak memikirkan mereka sehingga tidak perlu untuk ke masjid.
Hal lain yang membuat orang enggan ke masjid adalah pengurus masjid bertindak sebagai penguasa masjid bukan sebagai pelayan dan pembuat program yang memakmurkan masjid.
Ketika ada hal-hal yang kurang menyenangkan, seperti marah ketika ada anak ramai ke masjid atau remaja hanya pakai kaos ke masjid.
“Takmir masjid harus memiliki mental melayani.
Wajar kalau anak-anak tidak mau ke masjid karena takmirnya hanya berfikir mengelolanya menurut keinginannya,” tegasnya.
Seharusnya, lanjut Haidar takmir masjid harus berfikir bagaimana mengajak dan menghadirkan banyak orang ke masjid.
Ubah cara pandang
Sebagai upaya untuk memakmurkan masjid, Haidar berujar bahwa takmir masjid harus mengubah cara pandangnya.
Pertama, takmir masjid harus fokus mengurusi jamaah bukan fokus mengurusi bangunan masjid.
“Kalau hanya fokus bangunan fisik masjid, maka akan dibayang-bayangi oleh pemeliharaan bangunan,” tuturnya.
Kedua, masjid harus hadir memberikan solusi atas persoalan masyarakat.
Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.
Kesimpulan orang di luar Islam adalah dengan perilaku pemeluknya.
Ketiga dan keempat masjid harus mengedepankan pelayanan dan memobilisasi masyarakat untuk senang sholat berjamaah di masjid.
Haidar menuturkan bahwa Jogokaryan memilki 4 RW dan 18 RT.
Itu adalah tanggung jawab dakwah masjid Jogokaryan.
“Fokus kami sebagai takmir masjid memikirkan warga Jogokarya. Dari bagaimana ekonomi, sosial dan pendidikannya,” ujarnya.
Penulis Dadang Prabowo Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments