Masjid Ar Rahmah Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, dipenuhi antusiasme jamaah pada Ahad (28/12/2025) dalam kajian rutin Ahad pagi yang diisi Gus Ibnu Yusuf bin Kholil.
Dai muda pendiri Gawagis Muhammadiyah tersebut mengawali kajian dengan menekankan pentingnya menjaga warisan keilmuan Islam di tengah arus modernitas yang terus berkembang.
Jamaah yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai pemuda hingga orang tua. Mereka mengikuti kajian dengan khidmat di bawah suasana cerah penghujung tahun.
Dalam pemaparannya, Gus Ibnu Yusuf menegaskan bahwa kitab kuning sebagai sumber klasik keislaman tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Ia mengibaratkan kitab kuning sebagai akar yang kokoh, sedangkan Muhammadiyah adalah pohon yang tumbuh subur menjawab tantangan zaman kontemporer.
“Kitab kuning adalah fondasi yang menjaga Muhammadiyah tetap autentik dalam gerakan tajdid,” ujarnya sambil mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis.
Menurutnya, perpaduan tradisi keilmuan klasik dan semangat pembaruan menjadi kunci kemajuan umat Islam yang berkemajuan dan berkeadaban.
Gus Yusuf menjelaskan bahwa Muhammadiyah tetap mengajarkan kitab kuning di pesantren-pesantrennya meski dikenal sebagai gerakan modernis.
Ia mencontohkan metode Alfiyah yang masih relevan dalam membangun pemahaman mendalam terhadap fikih dan akidah.
“Memisahkan kitab kuning dari Muhammadiyah sama dengan memotong akar pohon. Ia akan layu dan kehilangan esensinya,” tegasnya.
Kajian tersebut menjadi pengingat pentingnya belajar berkelanjutan tanpa meninggalkan khazanah keilmuan Islam yang diwariskan para ulama.
Gus Ibnu Yusuf menutup kajian dengan ajakan agar generasi muda aktif mengikuti majelis ilmu demi menjaga kesinambungan tradisi keislaman.
Usai kajian utama, ia memperkenalkan Forum Gawagis Muhammadiyah sebagai wadah dzuriyah ulama yang aktif dalam persyarikatan.
Forum tersebut bertujuan memperkuat kontribusi para gus dalam dakwah dan pendidikan Muhammadiyah melalui jaringan ulama muda.
Menurut Gus Yusuf, Gawagis bukan sekadar forum silaturahmi, melainkan platform strategis memperkuat sinergi tradisi dan pembaruan.
Sejak diluncurkan awal Desember 2025, Gawagis telah menggelar seminar dan pelatihan dengan struktur organisasi yang solid.
“Gawagis menjadi jembatan antara tradisi gus dan semangat pembaruan Muhammadiyah,” ujarnya.
Pengenalan forum ini disambut antusias jamaah. Banyak peserta menyatakan kesiapan mendukung Gawagis demi memperkuat dakwah Muhammadiyah di Lumajang.


mudah mudahan banyak putra putri ulama Muhammadiyah tergabung dalam wadah gawagisMu ini, sehingga mengisi kekosongan kader yang melek kitab kuning… amiiin