
PWMU.CO – Gaung takbir menggema di berbagai penjuru bagian kecamatan Sidayu. Di antaranya di alun-alun Sidayu, yang menjadi salah satu tempat pelaksanaan shalat idul Adha 1445 H, Senin (17/6/2024).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sidayu yang dihadiri oleh ratusan jama’ah. Kegiatan terlebih dahulu dibuka oleh shalat Idul Adha berjama’ah yang dipimpin oleh ustadz Maulidda Al-Fajar selaku imam. Shalat dimulai pada pukul 05.45 WIB dan selesai pukul 06.00 WIB.
Selepas pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh H Farkhan.
Sebelum memaparkan materi, terlebih dahulu ustadz Hariyadi memberikan pengantar sekilas tentang esensi pada Idul Adha.
“Esensi ibadah qurban dan haji sebenarnya sama, yakni tazkiyatun aqidah dan tazkiyatun nafs. Kedua ibadah tersebut sama-sama berimplikasi baik terhadap keimanan maupun kejiwaan seseorang yang menjalankannya,” ujarnya.
Dia memaparkan dalil dari al-Quran, di antaranya yakni surat Al-An’am ayat 82, bahwa orang-orang beriman dilarang mencampuradukkan antara keimanan dan kesyirikan.
Selanjutnya, dia juga menjelaskan dalil lainnya yang terdapat pada surat At-Tahrim ayat 6, bahwa kita diperintahkan untuk tidak hanya peduli pada diri sendiri, namun juga peduli pada keluarga agar tidak masuk neraka.
Tak hanya itu, dia juga sedikit menyinggung jika orang-orang sekarang menganggap bahwa ilmu lebih penting dibandingkan adab. Padahal ulama-ulama terdahulu seperti Abdullah ibn Mubarak lebih mengutamakan adab daripada ilmu. Dimana jika seorang pemimpin yang berkuasa dengan seenaknya mengubah peraturan perundang-undangan yang ada, maka itu jadi salah satu contoh riil lebih diutamakan ilmu daripada adab.
Cerita Nabi Ismail juga dikisahkan, yaitu merupakan salah seorang nabi dengan akhlak mulia, bahkan sejak masih berusia belia. Hal tersebut pun menjadikannya keturunan nabi yang turut mewarisi kenabian orang tuanya yakni nabi Ibrahim.
Ustadz Farkhan menghimbau kepada seluruh jamaah shalat id agar lebih menitikberatkan pada belajar adab, baru kemudian belajar ilmu agar ilmu yang dipelajari dapat lebih terarah.
Setelah pemaparan khutbah selesai, terlebih dahulu maka beliau menutup dengan membaca do’a bagi kaum muslimin. Seusai khutbah, masing-masing panitia kurban bersiap di tempatnya untuk menyembelih hewan kurban.
Penulis Habib Amrullah, Editor ‘Aalimah Qurrata A’yun





0 Tanggapan
Empty Comments