Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hadapi Derasnya Gelombang Digital, Prof Dadang Kahmad Kupas Pentingnya Kesalehan Digital dalam Kajian Sang Pencerah

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -

Makna Kesalehan Digital

Lebih lanjut, Dadang juga menegaskan bahwa tema ‘Kesalehan Digital’ penting diangkat karena saat ini dunia digital dipenuhi dengan berita hoaks, saling membully, tayangan yang menghina, serta kebohongan yang merajalela.

“Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Microsoft melalui Digital Civility Index (DCI) tahun 2020 menunjukkan bahwa netizen Indonesia memiliki tingkat kesopanan digital terendah di dunia,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian terkait penyebab munculnya fenomena tersebut, salah satunya adalah faktor komersial. Segala sesuatu diposting demi keuntungan, bahkan berita buruk pun bisa menjadi ladang uang. Seluruh paham buruk yang menyebar di dunia saat ini juga banyak berasal dari media sosial.

“Generasi Z, sebanyak 90 persen di antaranya aktif menggunakan media sosial. Bahkan, saat Idul Fitri pun banyak yang hanya mengucapkan melalui WhatsApp. Ini menunjukkan bahwa pola kehidupan kita sudah banyak berubah,” imbuhnya.

Lalu, Laki-laki kelahiran 5 Oktober 1952 ini bertanya, “Apa sebenarnya kesalehan sosial?.” Menurutnya, Saleh berarti baik, tidak merusak, dan pantas. Kesalehan digital berarti membuat, mengunggah, dan membagikan konten yang baik, tidak merusak, serta pantas untuk disebarkan.

“Kalau Muhammadiyah tidak mengubah cara berdakwah dan hanya terpaku pada madrasah, majelis taklim, serta masjid, maka yang terbina hanya orang tua, sementara anak muda tidak terjangkau oleh kita. Saya khawatir anak muda yang tidak sekolah di Muhammadiyah akan kurang memahami agama dan cara beribadah yang benar,” tegasnya.

Maka dari itu, ia berharap TvMu terus melebarkan sayapnya. Karena jika hanya ceramah secara tatap muka, maka hanya ratusan orang yang bisa hadir, tapi jika lewat TvMu, ceramah bisa menjangkau ribuan orang.

“Kita harus mengetahui bagaimana cara membuat, memposting, atau membagikan konten. Ada tiga hal yang harus diperhatikan: yakni apakah konten tersebut baik, benar, dan bermanfaat,” sambungnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Namun, jika kita tidak memperhatikan hal ini, lanjutnya, maka lihatlah dalam Surat an-Nur ayat 15:

اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ

Artinya: (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Selain itu, Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Tahun 2020-2025 ini menegaskan bahwa maksud dari kesalehan digital adalah menjadikan niat ibadah dalam bermedia sosial. Ia juga menegaskan bahwa Surat an-Nur ayat 11-20 dapat dijadikan pedoman dalam bermedia sosial.

Di akhir kajian, Dadang mengajak para jamaah untuk bijak dalam memanfaatkan media sosial dan teknologi digital.

“Marilah kita gunakan media sosial dengan bijak. Jangan membuat hoaks dan jangan menyebarkan atau membagikan ulang konten-konten yang buruk,” pesannya.

Penulis Ni’matul Faizah Editor Wildan Nanda Rahmatullah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu