Search
Menu
Mode Gelap

Hadapi Disrupsi Digital, LSB Muhammadiyah Dorong Sastra Tetap Bernilai

Hadapi Disrupsi Digital, LSB Muhammadiyah Dorong Sastra Tetap Bernilai
Ilustrasi: OpenAI
pwmu.co -

Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gunawan Budiyanto, menyoroti kuatnya pengaruh revolusi digital yang kini merambah hampir seluruh sendi kehidupan, termasuk ranah sastra dan kebudayaan.

Gunawan menegaskan bahwa disrupsi teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan yang tak mungkin dihindari.

Oleh karena itu, respons yang dibutuhkan bukanlah penolakan, melainkan kemampuan untuk menyesuaikan diri secara kritis dengan tetap berlandaskan etika dan nilai kemanusiaan.

“Disrupsi teknologi informasi tidak bisa kita elakkan. Yang penting bukan menolak atau menjauh, tetapi bagaimana beradaptasi tanpa kehilangan sisi humanis, kedalaman makna, dan etika,” ungkap Gunawan saat menyampaikan pengantar dalam Pengajian Budaya Bulanan ke-5 LSB PP Muhammadiyah, Jumat (26/12/2025) malam.

Dalam bidang seni dan budaya, ia menilai LSB memiliki posisi strategis untuk menjaga mutu intelektual sekaligus nilai estetika karya sastra di tengah derasnya digitalisasi.

Gunawan mengingatkan bahwa kemudahan dan kecepatan media digital juga menyimpan ancaman, seperti dangkalnya karya sastra akibat dominasi algoritma, popularitas sesaat, serta budaya “like” dan “subscribe”.

“Di situasi seperti ini, peran LSB menjadi sangat penting untuk memastikan karya sastra tetap memiliki kualitas intelektual dan nilai estetika, tidak larut dalam arus digital yang serba instan,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemaparan Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah, Agus Suradika, yang juga tampil sebagai narasumber utama.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menurutnya, era digital membawa tantangan sekaligus peluang baru bagi perkembangan sastra dan kebudayaan.

Agus menjelaskan, sejumlah langkah strategis perlu dilakukan LSB, mulai dari menjaga keberlanjutan karya sastra bermutu, membangun ekosistem sastra yang sehat, mengarsipkan serta mendigitalisasi karya sastra Muhammadiyah, hingga mendorong lahirnya komunitas sastra digital yang berkarakter dan beradab.

Melalui upaya tersebut, ia optimistis sastra dan kebudayaan tidak akan tergerus oleh perubahan zaman, melainkan terus bertransformasi seiring perkembangan medium.

“Era digital bukan ancaman bagi sastra, justru menjadi ruang baru agar sastra tetap hidup dan menjangkau pembaca yang lebih luas,” tegas Agus.

Melalui diskusi tentang sastra dan kebudayaan di era digital ini, LSB PP Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya untuk membangun adaptasi digital dalam pengembangan sastra dan budaya.

Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mendorong keterlibatan publik dalam menjaga nilai, kualitas, dan kedalaman makna sastra serta kebudayaan Indonesia. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments