SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage (SD Ikrom) menyelenggarakan Workshop Classroom Management Training dengan menghadirkan dua pemateri andal dari Griya Parenting Indonesia, Sabtu (6/12/2025). Kegiatan yang diikuti 50 guru kelas I–VI itu berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB dengan rangkaian materi yang padat dan aplikatif.
Pemateri pertama, Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LPCP, membuka sesi awal dengan menyampaikan pentingnya pola kebiasaan dan pola pikir dalam menjaga ketangguhan diri pendidik. Ia berkisah tentang reuni alumni Gontor angkatan 1988 yang menunjukkan beragam perubahan kondisi fisik teman-temannya.
“Perbedaan itu terjadi karena pola makan, pola kebiasaan, dan pola pikir. Jika suka ke warung kopi, siap-siap tampak lebih tua dari umur. Begitu juga jika tidak mampu mengendalikan selera makan,” ujarnya.
Menurutnya, guru perlu terus belajar dan bergerak, memiliki growth mindset agar mampu berkembang. “Mari bersama sampai pukul lima nanti kita bangun growth mindset,” ajaknya.
Pemateri kedua, Muhammad Yusuf, S.Pd., M.M., membuka sesi dengan ice breaking penuh energi.
“Ayo ayo yes yes, ayo ayo go go… ayo yes ayo go!,” serunya yang disambut riuh peserta.
Keduanya merupakan founder dan trainer Griya Parenting Indonesia, lembaga pengembangan sumber daya manusia yang fokus pada pelatihan parenting, konseling, dan mentoring untuk pendidik serta orang tua. Lembaga ini bertujuan meningkatkan kualitas pengasuhan dan pendidikan anak berbasis karakter.
Workshop berlangsung dalam suasana dinamis, mencakup ice breaking, pemaparan, diskusi, tanya jawab, hingga praktik langsung. Materi disusun berurutan mulai dari pengenalan pemateri, pembuatan tagline kelompok, pembacaan tata tertib, penyampaian konsep kelas impian, piket kelas, desain kelas, identifikasi kelas, hingga praktik merapikan laci sebagai contoh classroom habits.
Pada sesi paradigma habits, Miftahul Jinan menekankan pentingnya membangun kebiasaan baik untuk menumbuhkan ketangguhan anak. Ia menuturkan pengalamannya membiasakan anak berjalan jauh ke sekolah sebagai bentuk latihan kemandirian.
“Jika setiap hari hanya berjalan tujuh meter dari gerbang ke kelas, dari mana datangnya sikap tangguh?” katanya.
Ia lalu bercerita tentang anaknya yang pernah berjalan jauh dari Surabaya ke Pepelegi karena tidak terjemput dan bersikap tenang saat pulang.
“Ketika saya meminta maaf, anak saya menjawab, ‘Tidak apa-apa, Bi. Saya malah senang bisa jalan-jalan.’ Itulah hasil penanaman karakter tangguh,” jelasnya.
Pada sesi penutup, peserta memberikan testimoni. Salah satunya dari Yuni Khosnol Khotimah, S.Pd., yang mengaku termotivasi untuk segera mempraktikkan manajemen kelas yang telah dipelajari, terutama terkait kerapian, kebersihan, dan pembiasaan baik bagi siswa.





0 Tanggapan
Empty Comments