Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya baru saja menyelenggarakan Konsolidasi Ideologi Muhammadiyah yang turut menghadirkan Bachtiar Dwi K., S.Fil.I, M. P. A., Sabtu (28/02/2026).
Acara tersebut ditujukan untuk pembahasan tentang Risalah Islam Berkemajuan dan Ideologi Muhammadiyah di Era Modern. Bachtiar selaku Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menjelaskan mengenai kondisi Muhammadiyah sebagai sebuah entitas organisasi yang dinilai telah berkembang semakin hebat dan bermanfaat. Menurutnya, hal ini juga tidak lepas dari kemampuan persyarikatan yang selalu berusaha untuk dapat berinteraksi dengan realitas kehidupan.
Bachtiar juga menyingung soal tujuan Muhammadiyah dalam konteks dakwah di lingkup Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang diharapkan olehnya tidak hanya dianggap sebagai tempat mencari nafkah semata.
“Jadi kalau di amal usaha jangan cuma kerja aja, ada misi dakwahnya, ada misi kebaikannya, ada pesan menyampaikan kebenaran,” jelas Bachtiar.
Lebih lanjut, ia pun memberikan pandangan bahwa kader hari ini haruslah kuat secara akidah dan ekonominya. Alhasil, Muhammadiyah juga dituntut untuk kuat terlebih dahulu melalui pimpinan yang harus lebih kreatif dan inovatif, sehingga mampu melatih kader-kadernya agar bisa berdaya untuk kehidupannya.
“Apik juga kan, kalau Muhammadiyah bisa menghidupi kader-kader Muhammadiyah, bisa menghidupi pimpinan-pimpinan Muhammadiyah,” tuturnya.
Namun, bagi Bachtiar, hal yang harus tetap dijaga oleh Muhammadiyah di tengah dinamika dan perubahan zaman adalah soal komitmen keislaman di persyarikatan.
“Tapi yang gak boleh diganti, komitmen keislaman Muhammadiyah. Apa itu? Keberpihakan kepada orang susah, keberpihakan kepada orang miskin, yatim, mustad’afhin. Gak boleh berubah,” tandas Backtiar.
Selain itu, Wakil Ketua MPKSDI PDM Kota Surabaya, Drs. H. M. Marjuki, M.A. dalam sambutannya telah menyampaikan bahwa hadirnya Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah pada acara ini diharapkan dapat memberikan ilmu untuk kemudian dilanjutkan di masing-masing pimpinan ortom.
Acara ini bagi Marjuki amatlah penting khususnya bagi guru Ismuba (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) sebagai sosok yang mengenalkan ideologi Muhammadiyah kepada generasi selanjutnya.
“Maka Al-Islam itu tidak hanya pelajaran, namun lebih penting lagi bagaimana Ismuba itu menjadi sebuah perilaku sehari-hari, sehingga anak-anak itu tidak hanya menerima pelajaran di sekolah namun juga dipraktikkan,” ucap Marjuki. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments