
Jangan Eksklusif
Haedar juga memberikan ruang bagi kader Muhammadiyah yang ingin berkiprah dalam politik melalui partai politik. Ia menekankan pentingnya kesederhanaan dan fleksibilitas dalam perjalanan politik.
Ia juga menekankan kepada kader-kader yang serius ingin berkiprah di dunia politik agar tidak mudah menyerah. “Tapi sekali gagal, harus terus, sampai lima kali gagal. Nah iya, jangan sekali gagal, pulang kampung. Pulang kampung marah-marah lagi. Jangan deh, berjuang ya berjuang! Harus tangguh, bisa beradaptasi, berdialog dengan orang lain, mau di politik, baru lima hari semua orang dimusuhi, jangankan yang di luar, yang di kamar sendiri juga dimusuhi,” katanya.
“Ya sudah, kalau seperti itu, insyaallah dalam tempo sesingkat-singkatnya dia akan menjadi orang yang gagal. Gagal juga gapapa, kan dalam hidup kita ini jatuh bangun, tapi ambil energi positif dari kegagalan itu, kalau mau terus berjuang, perbaiki diri, perbaiki langkah, dan pada saat yang sama, jangan terus nyalahkan orang deh,” imbuh Haedar disambut tawa hadirin.
Terkait dengan tantangan dalam mempertahankan relevansi Muhammadiyah, Haedar mengajak anggota Muhammadiyah untuk hadir di berbagai lapisan masyarakat, termasuk hadir di akar rumput.
“Jangan-jangan kita tereksklusif di masyarakat luas. Jangan-jangan kita tidak hadir di kelompok marjinal.Bahkan kita tidak hadir di kelompok-kelompok elite. Padahal banyak orang dari elite, menengah, sampai ke bawah itu ingin merasa terangkuli oleh Muhammadiyah,” tegasnya.
Pidato tersebut diakhiri dengan ajakan kepada hadirin untuk berperan aktif dalam politik sambil tetap menjaga prinsip-prinsip Muhammadiyah, seperti kesederhanaan, tasamuh, dan kerja sama.
“Mudah-mudahan hari ini kita dapat berefleksi, kemudian terus memperdalam kohesivitas kita, ingat harga termahal adalah kebersatuan, kebersamaan, dan sistem yang kita jaga, mudah-mudahan Allah meridhoi kita,” kata Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.
Penulis Muchammad Jiddan Azhar Editor Mohammad Nurfatoni





0 Tanggapan
Empty Comments