Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, hadir memberikan amanat pada acara pengukuhan Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM sebagai guru besar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (23/8/2025).
Kehadiran Haedar tidak hanya untuk menyampaikan ucapan selamat, tetapi juga pesan strategis bagi seluruh pendidik di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA).
Haedar mengawali amanatnya dengan rasa syukur. Bertambahnya guru besar, menurutnya, adalah tanda bahwa Muhammadiyah semakin kuat dalam membangun basis keilmuan.
“Dengan bertambahnya guru besar di PTMA, insyaallah Muhammadiyah akan terus berkomitmen membangun keilmuan dan kemandirian. Inilah DNA Muhammadiyah sejak awal berdiri,” ujarnya.
DNA itu, lanjut Haedar, tampak dalam keberanian Muhammadiyah untuk mengambil peran besar, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Muhammadiyah memiliki kemampuan memobilisasi potensi, membangun relasi, dan menata kerja-kerja peradaban tanpa bergantung pada pihak lain.
Haedar menekankan bahwa agenda besar Muhammadiyah melalui PTMA adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, bertakwa, dan berkarakter. Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini masih dihadapkan pada banyak persoalan, mulai dari rendahnya indeks pembangunan manusia, lemahnya daya saing, hingga masalah kesehatan seperti stunting.
“Ini semua seolah menjadi warning bagi kita. Maka pengembangan SDM harus menjadi agenda strategis bersama, untuk kepentingan bangsa hari ini maupun di masa depan,” tegasnya.
Dia mengingatkan, membangun jiwa dan raga bangsa bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi justru dalam ketidakmudahan itulah, menurut Haedar, umat Islam dan Muhammadiyah ditantang untuk terus berpikir dan berusaha menghadirkan solusi nyata.
Dalam pidatonya, Haedar juga mengutip gagasan para pendiri bangsa ketika merumuskan dasar negara. Ia menekankan bahwa sejak awal, salah satu tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Para tokoh bangsa dalam sidang BPUPK merumuskan tujuh poin penting agenda kebangsaan, di antaranya tentang kerakyatan, ketuhanan, kegotongroyongan, dan kecerdasan bangsa. Kecerdasan itu harus dibangun di atas dasar ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.
Hal tersebut, lanjut Haedar, juga tercermin dalam Pembukaan dan pasal-pasal UUD 1945, yang menyebutkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai fondasi kepribadian bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa peran kaum modernis, termasuk Muhammadiyah, sangat besar dalam perumusan gagasan mencerdaskan kehidupan bangsa. “Konsep mencerdaskan bangsa bukan sekadar kognisi, tetapi mencakup seluruh dimensi kesempurnaan akal budi dan karakter manusia,” tambahnya.
Selain soal keilmuan, Haedar menekankan pentingnya kepemimpinan di era modern. Menurutnya, para guru besar bukan hanya pengajar, tetapi juga pemimpin yang bertanggung jawab menegakkan nilai-nilai agama sekaligus mengurus urusan dunia.
“Kepemimpinan yang kita butuhkan adalah kepemimpinan kenabian. Pemimpin harus berani hadir di titik-titik kritis kehidupan berbangsa, untuk memberi solusi dan mengarahkan agenda strategis,” tuturnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa salah satu tantangan kepemimpinan hari ini adalah bagaimana membebaskan masyarakat dari beban ekonomi, termasuk masalah utang.
“Kalau tidak hati-hati, utang bisa membuat seseorang jatuh ke dalam golongan ghorim, yang pada akhirnya termasuk dalam delapan asnaf penerima zakat. Ini tantangan sosial yang harus dijawab dengan kebijakan dan kepemimpinan yang bijak,” jelasnya.
Mengakhiri amanatnya, Haedar berharap kehadiran Prof. Sukadiono sebagai guru besar baru akan memperkuat barisan intelektual Muhammadiyah. Dengan tambahan guru besar di UM Surabaya, Muhammadiyah diyakini semakin mantap dalam mengemban amanah keilmuan dan kepemimpinan.
“Dengan tambahan guru besar di UM Surabaya, insyaallah kita semakin kuat. Muhammadiyah akan terus hadir membantu memecahkan persoalan bangsa melalui jalan ilmu, pendidikan, dan kepemimpinan,” pungkas Haedar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments