
PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir menegaskan pentingnya meninggalkan cara-cara lama yang kurang beradab dalam menggalang dana pembangunan masjid, seperti menengadahkan wadah infak di pinggir jalan.
“Itu tugas mulia, Pak. Tapi mau sampai kapan saudara-saudara kita seperti itu?” ujarnya saat menerima kunjungan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Sabtu (26/7/2025) di Attanwir Tower, Gedung Dakwah Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat.
Menurut Haedar, membangun masjid memang amal yang sangat mulia. Namun, ikhtiar tersebut tidak sepatutnya dilakukan dengan cara-cara yang membahayakan keselamatan dan mengurangi martabat umat.
Haedar mengajak Baznas untuk menjadi bagian dari solusi keumatan melalui penyaluran zakat yang lebih terstruktur dan berkeadaban.
Dia menilai, kerja sama antara Muhammadiyah dan Baznas sangat diperlukan untuk menyentuh wilayah-wilayah yang masih tertinggal secara ekonomi.
“Maka dari itu diperlukan kolaborasi, sinergi untuk pentasyarufan zakat dari Baznas dengan berbagi,” tegasnya.
Haedar juga mencontohkan, ketika gerakan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memiliki kelebihan secara ekonomi, maka Muhammadiyah selalu menyalurkan kelebihan tersebut kepada daerah-daerah yang membutuhkan sentuhan pembangunan.
Kesederhanaan yang Penuh Makna
Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menekankan bahwa kelebihan aset Muhammadiyah tidak digunakan untuk membangun kemegahan organisasi semata. Sebaliknya, Muhammadiyah memilih hidup bersahaja dengan kantor-kantor yang tampak sederhana, namun gerakannya berdampak luas dan mendalam.
“Meski dikenal sebagai organisasi Islam dengan kekayaan dan aset yang melimpah, kehidupan di Muhammadiyah tetap bersahaja,” ujarnya.
Haedar menyayangkan masih adanya ketimpangan ekonomi di Indonesia, baik antara Jawa dan luar Jawa, maupun antar wilayah di Pulau Jawa sendiri. Menurutnya, ketimpangan ini harus menjadi perhatian serius umat Islam.
Mobilisasi Kolaborasi Umat
“Kalau kita bisa memobilisasi kolaborasi bersama, akan ada perubahan yang bagus dalam kehidupan umat Islam kita,” tuturnya.
Haedar juga menegaskan pentingnya perhatian pada kondisi sosial dan ekonomi umat Islam tanpa melupakan isu-isu penting lainnya seperti politik, demokrasi, dan kebijakan publik.
Di akhir pertemuan, Haedar kembali mengingatkan bahwa zakat, infak, dan sedekah harus menjadi kekuatan umat yang dikelola secara sistematis dan kolaboratif, bukan hanya sekadar kegiatan seremonial atau respons sesaat.
“Zakat itu tidak hanya untuk menyantuni, tapi juga untuk membebaskan. Dari ketertinggalan, ketergantungan, dan kemiskinan,” pungkasnya. (*)
Penulis Alfain Jalaluddin Ramadlan Editor Azrohal Hasan






0 Tanggapan
Empty Comments