Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, mengingatkan para pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) agar tidak mudah tergoda membongkar sistem dan budaya yang telah lama terbangun dalam tubuh Muhammadiyah.
Pesan ini dia sampaikan dalam Rapat Kerja Nasional Forum Rektor PTMA 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang yang digelar pada Kamis (16/10/2025), sebagai refleksi penting tentang pentingnya menjaga stabilitas, budaya, dan kemampuan adaptif terhadap perubahan zaman.
Haedar menilai PTMA telah menjadi garda terdepan dalam memperkuat kontribusi Muhammadiyah di bidang pendidikan.
“Kemajuan yang terus ditorehkan oleh PTMA ini terus mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, tentu ini adalah bukti dari pengabdian Muhammadiyah dalam mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa,” ungkap Haedar.
Dia menegaskan, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknai secara luas, tidak hanya dalam aspek intelektual, tetapi juga dalam membangun peradaban bangsa yang unggul dan bermartabat.
“Peran kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam banyak dimensi bukanlah hanya dalam mencerdaskan bangsa tapi juga keseluruhan aspek kehidupan bangsa. Sehingga itulah mengapa disebut “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Kita sudah berbuat, tapi harus untuk terus berbuat lebih optimal lagi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegasnya.
Haedar menggarisbawahi terkait perbaikan ekosistem. Dalam hal ini sektor pendidikan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah penting untuk terus mengkonsolidasikan sekaligus mengakselerasi seluruh dimensi sistem untuk meraih keunggulan dan kemajuan sesuai dengan dimensi, visi, dan misi keunggulan dan kemajuan yang dibawa oleh Muhammadiyah.
“Kita punya fundamental value yang menjadi pondasi dan cita-cita ideal dari Muhammadiyah dari semua komponennya yang bukan hanya perlu di internalisasi namun juga di internasionalisasikan kedalam sistem. Islam yang dibawa Muhammadiyah itu adalah islam yang gagah, islam yang nyah-nyoh, Islam yang memberi dan punya marwah. Inilah yang merupakan cerminan Islam berkemajuan yang telah menjadi nilai dan karakter kita di Muhammadiyah,” tutur Haedar.
Dia juga menyoroti tentang aspek dan nilai-nilai Islam Berkemajuan yang perlu dibingkai dalam usaha-usaha memajukan PTMA. Selain itu, aspek budaya juga menjadi hal penting di mana budaya Muhammadiyah yang telah terbentuk selama 113 tahun lamanya perlu untuk terus dijaga secara bersama dan dijadikan acuan penting dalam memajukan persyarikatan.
“Budaya Muhammadiyah telah terbentuk lama 113 tahun, budaya sederhana, budaya mandiri yang ada di Muhammadiyah ini jangan dirusak,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas sistem dan kepemimpinan kolektif kolegial di tubuh Muhammadiyah. Sistem yang telah berjalan baik ini, menurutnya, adalah faktor yang membuat Muhammadiyah tetap solid dan terarah dalam menghadapi berbagai dinamika.
“Sistem kita ini sudah stabil, kepemimpinan Muhammadiyah itu kolektif kolegial yang tersistem. Sistem yang dapat mengatasi segalanya. Kita perlu menjaga hal itu supaya semuanya dapat jelas dan well organize,” ucap Haedar.
Terakhir, Haedar berpesan bahwa dalam merespons perubahan dunia, para rektor dan pimpinan di Muhammadiyah perlu memahami betul terhadap perubahan landskap dunia. Haedar juga menyebut bahwa hal tersebut merupakan langkah yang perlu diambil untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
“Janganlah sekali-kali membongkar tenunan yang sudah dirajut dengan baik. Membongkar itu gampang, namun membangun itu sulit. Insyaallah dengan adanya forum rektor ini akan memperkokoh sistem yang telah dibangun Muhammadiyah,” pungkas Haedar. (Bhisma)





0 Tanggapan
Empty Comments