Ketika membicarakan hakikat kemerdekaan menurut Islam, ada baiknya kita mengingat ungkapan Khalifah Kedua, Sayyidina Umar bin Khattab ra. Suatu ketika beliau berkata:
متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم أحرارا
“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”
Perkataan ini menegaskan bahwa hakikat manusia adalah merdeka. Bayi yang baru lahir tidak hanya suci secara fitrah, tetapi juga membawa kebebasan dari segala bentuk perbudakan.
Dengan demikian, kemerdekaan menurut Islam berarti membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan, penindasan, dan penjajahan, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik.
Kemerdekaan di Indonesia: Sudahkah Sepenuhnya?
Dalam konteks Indonesia, mungkin kita beranggapan perbudakan sudah tidak ada, sebagaimana praktik kerja rodi atau tanam paksa pada masa penjajahan. Namun jika ditelaah lebih dalam, masih ada bentuk-bentuk penindasan terselubung.
Di pelosok negeri ini, masih ada guru yang digaji hanya tiga ratus ribu rupiah per bulan. Nasib buruh, nelayan, dan petani pun kerap tidak sebanding antara tenaga yang dicurahkan dengan hasil yang diperoleh. Memang tidak ada perbudakan secara terang-terangan, tetapi praktik ketidakadilan masih berlangsung secara halus.
Secara de facto dan de jure, Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Namun untuk menjadi bangsa yang benar-benar merdeka secara utuh, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama oleh para pemimpin bangsa.
Sumbangsih Umat Islam terhadap Kemerdekaan
Ada kalanya muncul pertanyaan: “Apa sumbangsih umat Islam terhadap kemerdekaan Indonesia?” Jawabannya tegas: saham terbesar kemerdekaan adalah dari umat Islam.
Sejarah mencatat, jauh sebelum Indonesia merdeka, perjuangan melawan penjajah sudah dipelopori para tokoh Islam. Pangeran Diponegoro, seorang ulama dan pemimpin umat, memimpin Perang Jawa melawan penjajah. Di Sumatra Barat, Tuanku Imam Bonjol memimpin Perang Padri. Dari Aceh, Cut Nyak Dien—seorang perempuan muslimah yang tegar—memimpin perlawanan dengan semangat jihad.
Semangat mereka bersumber dari ajaran Islam yang menolak penindasan dan menjunjung tinggi keadilan.
Organisasi Islam Pra-Kemerdekaan
Perjuangan umat Islam juga terwujud melalui organisasi. Tahun 1905 berdiri Serikat Dagang Islam (SDI), yang kemudian menjadi Serikat Islam (SI) di bawah pimpinan HOS Cokroaminoto. Organisasi ini menjadi alat perjuangan politik yang terorganisir.
Kesadaran kaum ulama untuk melawan penjajah dengan ilmu dan organisasi rapi juga melahirkan banyak ormas Islam:
– Muhammadiyah (1912) oleh KH Ahmad Dahlan
– Al Irsyad (1914) oleh Syekh Ahmad Surkati
– Persis oleh KH Zamzam dan Muhammad Yunus
– Nahdlatul Ulama (NU) (1926) oleh KH Hasyim Asy’ari
Meski berbeda latar belakang, tujuan besar mereka sama: memerangi kebodohan, mengatasi kemiskinan, dan mempersatukan umat. Rakyat yang bodoh dicerdaskan, yang miskin ditolong oleh para dermawan Muslim, dan yang tercerai-berai dipersatukan.
Langkah-langkah ini menjadi modal kuat menuju kemerdekaan. Tidak lama setelah itu, Indonesia benar-benar terbebas dari penjajahan.
Maka, tanpa mengecilkan peran umat lain, umat Islam adalah pemilik sah republik ini—berjuang secara ikhlas, berkorban secara luas, dan memberikan kontribusi terbesar bagi lahirnya kemerdekaan Indonesia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments