Yaumul mizan merupakan salah satu hari akhir dalam Islam yang akan dijumpai semua makhluk di akhir zaman nanti.
Mizan sendiri memiliki arti timbangan yang berfungsi untuk mengukur sesuatu berdasarkan berat dan ringan. Di akhirat kelak, timbangan yang digunakan adalah timbangan Allah SWT.
Dalam hal ini, yaumul mizan secara konsep merupakan hari di mana segala amal perbuatan manusia akan ditimbang di hadapan Allah SWT. Hari ini bersifat mutlak dan merupakan sesuatu yang harus umat Islam yakini.
Hanya Allah SWT yang mengetahui secara pasti bentuk dan ukurannya. Bahkan dikisahkan jika langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya Mizan tersebut akan tetap lapang.
Oleh karenanya segala perbuatan manusia harus dapat dipertanggungjawabkan di akhirat baik besar atau kecil sekalipun. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ.سُبْحَانَكَ مَا عَبَدْنَاكَ حَقَّ عِبَادَتِكَ.
“Pada hari Kiamat, mizan akan ditegakkan. Andaikan ia digunakan untuk menimbang langit dan bumi, niscaya ia akan tetap lapang. Maka Malaikat pun berkata, “Wahai Rabb-ku, untuk siapa timbangan ini?” Allah berfirman: “Untuk siapa saja dari hamba-hamba-Ku.” Maka Malaikat berkata, “Maha suci Engkau, tidaklah kami dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dan shohih dalam Silsilah As-Silsilah Ash-Shohihah, no. 941).
Allah SWT pun berfirman dalam Alquran Surat Al Anbiya ayat 47, adalah sebagai berikut:
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”
Hal-Hal yang Ditimbang di Yaumul Mizan
Para ulama menyampaikan pandangannya perihal apa saja yang menjadi pertimbangan pada saat hari akhirat. Tiga pendapat yang disimpulkan adalah:
Amal. Didukung dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6406, 6682, dan Muslim, 2694).
Keimanan Seseorang. Berat atau tidaknya sebuah timbangan dihitung berdasarkan kadar keimanan seseorang. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..”
فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)
“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4729 dan Muslim, no. 2785)
Lembaran catatan amal. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah saw bersabda (yang artinya):
“Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”
Syahadat, atau dua kalimat syahadat: “Ashhadu an laa ilaaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah”, memiliki keutamaan yang sangat besar pada hari hisab (perhitungan amal), yang berfungsi sebagai kunci utama surga, penghapus dosa, dan pembeda antara orang beriman dan orang kafir.
Berikut adalah beberapa keutamaan syahadat di hari hisab:
- Kunci Surga: Kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah kunci surga. Orang yang meninggal dunia dalam keadaan mengucapkan dan meyakini kalimat ini, dijamin akan masuk surga.
- Penyelamat dari Neraka: Keyakinan yang tulus terhadap syahadat dan mengamalkan konsekuensinya dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka.
- Penentu Sahnya Amal Ibadah: Syahadat adalah pondasi dan syarat utama diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa syahadat yang terpatri dalam hati dan diucapkan dengan lisan, amal kebaikan lainnya bisa menjadi sia-sia di hadapan Allah SWT.
- Amalan Paling Utama: Syahadat dianggap sebagai amalan yang paling utama dalam Islam, yang menjadi dasar dari seluruh amal perbuatan lainnya.
- Penggugur Dosa: Bagi orang yang benar-benar memahami dan mengamalkan makna syahadat secara ikhlas, kalimat ini dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa mereka (kecuali dosa syirik, jika tidak bertaubat).
Pada hari hisab, ketika setiap perbuatan manusia dipertanggungjawabkan, keimanan yang dinyatakan melalui syahadat akan menjadi bukti fundamental status keislaman seseorang dan menjadi faktor penentu dalam pertimbangan amal baik dan buruknya.
Penting untuk diingat bahwa syahadat bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi harus disertai dengan pemahaman makna, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dalam perbuatan sehari-hari untuk mendapatkan keutamaan penuh di akhirat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments