Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Halal Bi Halal PRA Sukolilo: Memaknai Kemurnian Hati dan Teladan Kesederhanaan Keluarga Rasulullah

Iklan Landscape Smamda
Halal Bi Halal PRA Sukolilo: Memaknai Kemurnian Hati dan Teladan Kesederhanaan Keluarga Rasulullah
Marlichah Siti Cholidah, S.Ag., M.Sy. (akrab disapa Icha atau Ica), pendakwah perempuan LDK PWM Jawa Timur. (Tri Eko Sulistiowati/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sukolilo menyelenggarakan agenda Halal Bi Halal dengan tajuk “Kembali Fitrah, Memaafkan untuk Kemurnian Hati” pada Sabtu (28/3/2026).

Acara yang berlangsung di Gedung SD Muhammadiyah 9 Sukolilo, Surabaya ini menjadi istimewa dengan kehadiran Marlichah Siti Cholidah, S.Ag., M.Sy., atau yang akrab disapa Icha, pendakwah dari Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Ketua PRA Sukolilo, Ibu Rini, mengajak seluruh kader untuk saling mengikhlaskan kekhilafan masa lalu.

“Atas nama pimpinan, kami memohon maaf atas segala kekurangan dalam menjalankan roda organisasi. Mari kita jadikan Aisyiyah sebagai wadah dakwah untuk menebar kemaslahatan bagi sesama,” ungkapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia di bawah arahan Ibu Mulyana serta para donatur yang telah menyukseskan acara ini.

Tausiyah: Esensi Pakaian Terbaik dan Hadiah Langit

Memasuki acara inti, Icha menyampaikan tausiyah mendalam mengenai makna hari kemenangan. Ia mengingatkan jemaah bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik saat Idulfitri. Namun, ia menekankan bahwa “terbaik” tidak selalu berarti “baru”.

“Pakaian terbaik itu yang sudah dicuci bersih dan disetrika rapi. Memang tradisi kita di Indonesia senang memakai baju seragam atau couple saat Lebaran atau hajatan, kalau tidak seragam rasanya ada yang kurang,” selorohnya yang disambut senyum para jemaah.

Kemudian ia menceritakan kisah mengharukan mengenai cucu Rasulullah, Hasan dan Husein. Menjelang Lebaran, keduanya terus menagih baju baru kepada ibunda mereka, Siti Fatimah Az-Zahra. Dengan sabar, Siti Fatimah menjawab bahwa baju mereka masih di penjahit, padahal sebenarnya ia tidak memiliki biaya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Siti Fatimah menangis mengadu kepada Rasulullah karena tidak tega melihat anak-anaknya tidak memiliki baju baru saat takbir berkumandang. Namun, Allah SWT tidak tinggal diam. Tiba-tiba datanglah sosok misterius yang mengaku sebagai penjahit dan mengantarkan dua pasang pakaian indah, terompah, dan sorban untuk Hasan dan Husein,” urainya.

Ternyata, pakaian tersebut adalah kiriman langsung dari surga sebagai hadiah atas kesabaran dan ketakwaan keluarga Rasulullah. Pesan moralnya, menurut Ustadzah Icha, adalah agar umat Islam tidak perlu merasa terbebani secara berlebihan demi gengsi Lebaran.

“Jangan sampai kita banting tulang melampaui batas hanya untuk kemewahan sesaat, padahal yang utama adalah menjemput kemenangan setelah sebulan berpuasa,” pesannya.

Refleksi Pasca-Ramadan

Menutup tausiyahnya, aktivis LDK PWM Jatim ini mengajak jemaah untuk melakukan evaluasi diri. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan bukan diukur dari meriahnya perayaan, melainkan dari bersihnya hati.

“Jika Rasulullah saja hatinya dibersihkan oleh Malaikat Jibril agar tidak ada bintik hitam sedikit pun, maka kita sebagai manusia biasa harus lebih giat membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin. Jangan sampai setelah Ramadan berlalu, kita kembali pada kebiasaan lama yang tidak bermanfaat,” pungkasnya.

Acara diakhiri dengan ramah tamah dan doa bersama, memperkuat tekad para anggota Aisyiyah Sukolilo untuk terus berjuang di jalan dakwah demi meraih rida Allah SWT. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡