“Ideologi bukan sekadar konsep kaku, tetapi harus menjadi napas kehidupan dalam berorganisasi dan berdakwah.”
Demikian pesan utama yang disampaikan oleh Dr. Hasan Ubaidillah, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, saat mengisi materi bertajuk “Ideologi: Gagasan dan Inovasi” dalam kegiatan Training of Trainers (TOT) Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Sabtu (8/11/2025) malam di Graha Umsida Trawas.
Kegiatan yang diikuti oleh anggota MPKSDI PDM Lamongan dan perwakilan Ortom Daerah ini berlangsung dalam suasana akrab dan interaktif. Hasan Ubaidillah membuka sesi dengan dialog santai, memantik peserta untuk berdiskusi tentang makna ideologi dalam konteks gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman.
“Apakah ideologi itu masih relevan? Apakah ia tetap bergizi dalam kehidupan berorganisasi?” tanya Hasan memancing refleksi peserta.
Menurutnya, ideologi Muhammadiyah tidak boleh dipahami sebatas dokumen atau gagasan lama yang dihafal, melainkan harus diyakini dan dihidupi oleh setiap kader.
“Ideologi Muhammadiyah itu bukan hanya sistem nilai, tetapi juga peta jalan hidup. Ia menjadi arah dan motivasi dalam setiap langkah perjuangan,” tegasnya.
Hasan menegaskan bahwa keistimewaan Muhammadiyah terletak pada kemampuannya menyeimbangkan nilai keagamaan dengan orientasi sosial dan kemanusiaan. Karena itu, ia mendorong kader untuk menjadikan ideologi sebagai sumber inspirasi inovasi.
“Kalau ideologi hanya disimpan di kepala, ia akan mati. Tapi kalau dihidupi dalam tindakan, ia akan melahirkan gagasan-gagasan baru yang menyelamatkan umat dan memajukan masyarakat,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, Hasan juga menyoroti pentingnya positioning gerakan Muhammadiyah sebagai artikulator moral di tengah problem sosial yang semakin kompleks. Ia mencontohkan, sikap kritis dan kontrol sosial terhadap fenomena kemungkaran bukan hanya dilakukan lewat kekuasaan atau lisan, tetapi juga melalui aksi moral yang meneguhkan nilai kebenaran.
“Doa itu juga aksi moral. Ketika kita menolak keburukan dan menegakkan kebaikan, di situlah ideologi bekerja sebagai energi moral,” tambahnya.
Ia mengakhiri materinya dengan pesan reflektif bahwa ideologi Muhammadiyah harus terus menjadi inspirasi dalam setiap lini amal usaha, pendidikan, dan dakwah.
“Kalau kita mengaku kader Muhammadiyah, maka ideologi itu harus terasa dalam cara berpikir, bersikap, dan bekerja. Dari situ lahir inovasi yang mencerahkan,” tuturnya disambut tepuk tangan peserta. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments