Jangan pernah frustrasi ketika usaha yang telah kita lakukan belum juga menampakkan hasil. Sebab, tidak semua ikhtiar berbuah dalam bentuk yang langsung terlihat.
Ada kalanya Allah menyimpan hasil itu dalam bentuk lain: pelajaran hidup, pendewasaan jiwa, atau penguatan iman. Apa yang kita anggap sebagai kegagalan, sering kali justru merupakan proses pembentukan karakter.
Kita mungkin sudah bersusah payah berikhtiar, menguras tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Namun, tidak tercapainya hasil yang diharapkan tidak otomatis menjadikan kita orang yang gagal.
Dalam Islam, nilai sebuah usaha tidak semata diukur dari hasil akhirnya, tetapi dari kesungguhan niat dan proses yang dijalani.
Allah SWT mengingatkan: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap ikhtiar memiliki nilai di sisi Allah, meskipun hasilnya belum kita rasakan saat ini.
Menjadi pribadi tangguh berarti memiliki daya tahan batin ketika menghadapi tekanan hidup. Pribadi tangguh tidak merasa dirinya lemah saat cobaan datang, tidak larut dalam keputusasaan, dan tidak membiarkan luka batin menghancurkan semangat hidupnya.
Kehidupan nyata penuh dengan contoh. Ada orang yang berkali-kali gagal dalam usaha, namun kegagalan itu justru menempa ketajaman berpikir dan keteguhan hati.
Ada pula yang diuji dengan sakit berkepanjangan, kehilangan pekerjaan, atau kekecewaan dalam relasi, tetapi dari situ tumbuh kedewasaan dan kedekatan dengan Allah.
Pribadi tangguh selalu berusaha memandang peristiwa dari sisi positifnya. Ia yakin sepenuh hati bahwa skenario Allah pasti baik, meskipun pada awalnya terasa pahit. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Ketangguhan sejati lahir dari kesabaran dan harapan akan pahala serta rida Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Dalam kehidupan sosial, sering kali luka terdalam bukan berasal dari pukulan fisik, melainkan dari kata-kata.
Kadang hanya sepatah kalimat yang ketus mampu membuat seseorang sakit hati bertahun-tahun. Sikap ceria dan kegembiraan yang telah lama terbangun seakan runtuh seketika oleh satu ucapan.
Ketika orang bertanya, “Mengapa kamu berubah?”
Kita menjawab, “Kata-kata itu sungguh amat menyakitkan.”
Lalu muncul pertanyaan jujur dalam diri kita: benarkah kata-kata itu begitu menyakitkan? Ataukah sebenarnya hati kita yang terlalu rapuh?
Bukan berarti kita lemah, dan bukan pula karena kata-kata itu begitu hebat. Masalah sesungguhnya sering terletak pada tingginya hati. Hati yang tinggi membuat harga diri, gengsi, dan keinginan untuk selalu dihormati ikut meninggi. Kita merasa diri terhormat, mulia, dan nyaris tanpa cela.
Ketika ekspektasi itu runtuh oleh ucapan orang lain, hati pun mudah tersinggung. Tinggi hati menjadikan jiwa rapuh dan emosi tidak stabil. Inilah yang membuat kita mudah berprasangka buruk dan sulit memaafkan.
Rendah Hati sebagai Sumber Kekuatan
Jika ingin menjadi pribadi yang kuat, belajarlah untuk rendah hati setiap saat. Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, justru ia adalah sumber kekuatan batin.
Orang yang rendah hati tidak mudah goyah oleh hinaan, karena ia tidak menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia.
Bayangkan samudera yang luas. Sungai kecil membawa kotoran dan lumpur, namun samudera tetap tenang dan tidak meluap. Demikianlah hati yang rendah: tenang, hening, namun tegar.
Kerendahan hati membuat hidup terasa lebih ringan. Kita tidak sibuk menjaga gengsi, tidak mudah tersulut emosi, dan lebih lapang dalam memaafkan.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan segala apa yang ada di langit dan di bumi hanya bersujud kepada Allah, yaitu semua makhluk yang bergerak (bernyawa) dan juga para malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 49)
Dan Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati: “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati. Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata hinaan, mereka membalasnya dengan mengucapkan ‘salam’.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ketangguhan tanpa kerendahan hati akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, kerendahan hati tanpa ketangguhan dapat menjadikan seseorang mudah terinjak.
Islam mengajarkan keseimbangan: tangguh dalam menghadapi ujian, rendah hati dalam menyikapi kehidupan.
Dengan ketangguhan, kita tidak mudah menyerah. Dengan kerendahan hati, kita tidak mudah terluka.
Dari sanalah lahir jiwa yang kuat, lapang, dan penuh sukacita—jiwa yang senantiasa berjalan di bawah naungan rida Allah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments