Fenomena hijrah milenial menjadi salah satu tren yang banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Tidak sedikit kalangan muda, termasuk selebritas, yang mendeklarasikan diri “berhijrah” dan kemudian memengaruhi gaya hidup generasi lainnya.
Namun, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Thoat Stiawan, mengingatkan agar hijrah tidak berhenti pada simbol, melainkan diwujudkan dalam substansi kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, makna hijrah sesungguhnya berangkat dari peristiwa Rasulullah SAW berpindah dari Makkah ke Madinah.
“Hijrah berarti berpindah menuju kehidupan yang lebih Islami. Namun, jangan sampai hijrah dipahami sebagai jalan menuju eksklusivitas. Justru Islam itu membuka ruang keterbukaan yang luas,” ujarnya dikutip dari Podium Podcast PWMU.TV.
Thoat menegaskan, generasi muda yang berhijrah seharusnya lebih inklusif dalam bergaul. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad saw tidak hanya berinteraksi dengan kaum Muslimin, tetapi juga berdialog dan merangkul non-Muslim demi dakwah.
“Hijrah seharusnya menghadirkan kemaslahatan, bukan menimbulkan sekat sosial,” jelasnya.
Fenomena hijrah milenial sempat mencuat sekitar 2020–2021, ketika sejumlah artis memutuskan untuk mengubah gaya hidup ke arah lebih religius.
Gelombang ini kemudian ditiru oleh banyak anak muda. Namun, tren tersebut menimbulkan dua dampak yang berbeda.
Di satu sisi, ada dampak positif berupa meningkatnya semangat keagamaan dan kedermawanan.
“Hijrah yang melahirkan sikap dermawan, suka menolong, dan bermanfaat bagi sesama, itulah hijrah yang membawa maslahat,” ujar Thoat.
Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang memaknai hijrah secara sempit hingga mengarah pada sikap intoleran dan menutup diri.
“Kadang ada kelompok yang merasa hanya mau bergaul dengan sesama yang sudah berhijrah. Ini justru mafsadah atau dampak negatif, karena menghilangkan nilai moderasi Islam,” tegasnya.
Perkembangan media sosial juga ikut membentuk persepsi publik tentang hijrah. Konten-konten hijrah banyak beredar, baik berupa narasi dakwah (qauli) maupun teladan nyata (fi’li), seperti aksi sosial atau kegiatan berbagi.
Menurut Thoat, media sosial bisa menjadi sarana dakwah yang efektif jika digunakan dengan bijak.
“Kita harus pandai memilah. Jangan hanya menilai dari potongan konten yang tidak utuh. Kalau ada perbuatan baik, dukunglah, meskipun kita mungkin tidak sepakat dengan sosok yang melakukannya,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya literasi digital dalam mengakses konten keagamaan. “Tidak semua guru bisa dijadikan guru, termasuk yang kita temui di YouTube atau Instagram. Harus jelas sanad keilmuannya, siapa gurunya, siapa keluarganya, dan dari tradisi keilmuan mana ia berasal,” tambahnya.
Thoat juga menyinggung potensi penyusupan paham radikalisme dalam gerakan hijrah milenial. Menurutnya, generasi milenial dan Gen Z sedang berada pada fase pencarian jati diri, sehingga rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
“Mereka adalah ‘makanan empuk’ bagi doktrinasi. Karena itu, keluarga dan lingkungan harus berperan aktif memberikan edukasi agar tidak terkontaminasi pemahaman yang keliru atas istilah hijrah,” paparnya.
Dia menegaskan bahwa kemerdekaan dalam ekonomi, pendidikan, dan pemahaman agama sangat penting untuk membentengi diri dari pengaruh radikalisme.
“Kalau sudah merdeka secara ekonomi, merdeka secara ilmu, dan merdeka secara pemahaman, insyaAllah tidak mudah dipengaruhi paham yang menyimpang,” tandasnya.
Thoat mengingatkan bahwa Islam selalu relevan di setiap zaman. “Agama Islam itu relate dengan keadaan dan situasi kapanpun dan di manapun. Maka, mari kita jadikan hijrah bukan hanya slogan, tapi sebuah proses nyata menuju keberkahan hidup,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments