
Penulis Afrizal Lutfhfi Fernanda – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya
PWMU.CO – Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki hubungan yang cukup kompleks dengan seni. Sejak awal berdirinya pada tahun 1912, Muhammadiyah memiliki pandangan konservatif terhadap seni, dengan menekankan bahwa seni harus selaras dengan nilai-nilai Islam.
Seni yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, seperti yang mengandung unsur maksiat atau bertujuan sekadar hiburan tanpa manfaat, cenderung dihindari. Namun, seiring perkembangan zaman, Muhammadiyah mulai mengakui bahwa seni memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai sarana edukasi, dakwah, maupun ekspresi budaya yang Islami.
Pada awal perkembangannya, Muhammadiyah cenderung bersikap skeptis terhadap seni, terutama seni yang dikaitkan dengan budaya lokal yang memiliki unsur mistis atau animisme. Hal ini sejalan dengan semangat pembaruan Islam yang diusung oleh Muhammadiyah, yang berupaya menghapuskan praktik-praktik yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, seiring dengan bertambahnya anggota dan berkembangnya peran Muhammadiyah dalam pendidikan, organisasi ini mulai melihat seni sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk mendukung dakwah dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Pada tahun 1920-an, Muhammadiyah mulai mendirikan sekolah-sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga seni, seperti musik dan lukisan. Langkah ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah mulai menerima seni sebagai bagian dari kehidupan manusia yang dapat diarahkan untuk tujuan positif. Pendidikan seni dalam lingkungan Muhammadiyah bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual kepada peserta didik, sehingga seni tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga alat dakwah yang efektif.
Pada tahun 1950-an, Muhammadiyah mengembangkan konsep “Islam sebagai Seni”, yang menekankan bahwa Islam bukan hanya agama yang mengatur kehidupan manusia secara spiritual dan sosial, tetapi juga memiliki unsur seni yang memperkaya kehidupan manusia. Konsep ini membuka jalan bagi Muhammadiyah untuk lebih aktif dalam mengembangkan berbagai bentuk seni yang diinspirasi oleh nilai-nilai Islam.
Seni tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama, melainkan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan Islam dengan cara yang indah dan mudah diterima oleh masyarakat.
Muhammadiyah dan Lembaga Seni
Saat ini, Muhammadiyah memiliki berbagai lembaga seni yang berperan dalam mengembangkan seni berbasis nilai-nilai Islam. Salah satu lembaga seni yang memiliki pengaruh besar adalah Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang didirikan oleh Muhammadiyah pada tahun 1984.
ISI Yogyakarta merupakan salah satu institusi seni terbesar di Indonesia yang menawarkan berbagai program studi seni, seperti musik, tari, teater, dan seni rupa. Lembaga ini tidak hanya mencetak seniman-seniman berbakat, tetapi juga mengajarkan bagaimana seni dapat digunakan sebagai sarana dakwah dan pendidikan moral.
Selain ISI Yogyakarta, Muhammadiyah juga memiliki berbagai lembaga pendidikan yang mengajarkan seni, baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Misalnya, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki program-program yang mendukung pengembangan seni Islam. Lembaga-lembaga ini berusaha menggabungkan antara estetika seni dengan ajaran Islam, sehingga menghasilkan karya seni yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki pesan moral dan religius yang kuat.
Peran Muhammadiyah dalam Berbagai Cabang Seni
Muhammadiyah tidak hanya mendukung pendidikan seni, tetapi juga aktif dalam berbagai cabang seni, seperti musik, tari, teater, dan seni rupa.
1. Musik Islami
Dalam bidang musik, Muhammadiyah memiliki berbagai grup musik yang mengembangkan musik Islam sebagai sarana dakwah. Salah satu contoh yang terkenal adalah Muhammadiyah Choir, yang didirikan pada tahun 1960-an. Grup ini telah menghasilkan berbagai karya musik yang tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga mengandung pesan moral dan keislaman. Selain itu, Muhammadiyah juga mendukung perkembangan musik nasyid dan musik religi yang mengangkat tema-tema Islami.
Banyak sekolah dan universitas Muhammadiyah yang memiliki kelompok paduan suara Islami serta grup musik akustik yang membawakan lagu-lagu dengan lirik yang mendidik dan religius. Musik yang dikembangkan dalam lingkungan Muhammadiyah umumnya menghindari unsur-unsur yang dianggap berlebihan dalam hal hiburan, dan lebih menekankan pada aspek edukatif dan spiritual.
2. Tari Berbasis Nilai Islam
Dalam bidang tari, Muhammadiyah telah mengembangkan berbagai bentuk tarian tradisional Indonesia yang dikombinasikan dengan nilai-nilai Islam. Salah satu contohnya adalah Grup Tari Saman Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1970-an. Tari Saman yang berasal dari Aceh ini dikenal sebagai tarian yang memiliki makna religius dan sering digunakan dalam acara-acara dakwah serta kegiatan keagamaan.
Muhammadiyah juga mendorong pelestarian tari-tari tradisional Indonesia yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, seperti tari Zapin dan tari Ratoeh Jaroe, dengan memberikan sentuhan islami dalam gerakan dan kostumnya. Tarian-tarian ini digunakan dalam berbagai acara resmi Muhammadiyah, termasuk konferensi dan seminar keislaman.
3. Teater Islam
Muhammadiyah juga memiliki berbagai grup teater yang mengembangkan teater Islami. Salah satu yang terkenal adalah Teater Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1980-an. Grup teater ini sering menampilkan pertunjukan yang mengangkat tema-tema keislaman, seperti kisah para nabi, perjuangan Islam di Indonesia, serta nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Teater dalam lingkungan Muhammadiyah tidak hanya bertujuan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan dakwah. Oleh karena itu, naskah yang dipentaskan selalu mengandung pesan moral yang kuat dan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat.
4. Seni Rupa Islam
Dalam bidang seni rupa, Muhammadiyah memiliki berbagai lembaga yang mengembangkan seni rupa Islami. Salah satu contoh adalah Institut Seni Rupa Muhammadiyah, yang didirikan pada tahun 1990-an. Lembaga ini telah menghasilkan berbagai karya seni rupa yang diinspirasi oleh nilai-nilai Islam, seperti kaligrafi, seni lukis Islami, dan desain grafis Islami.
Seni rupa dalam Muhammadiyah berkembang pesat seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap seni yang memiliki nilai religius. Banyak seniman Muhammadiyah yang mengembangkan seni kaligrafi Arab dengan gaya modern, serta seni mural Islami yang memperindah masjid-masjid dan lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Muhammadiyah memiliki hubungan yang dinamis dengan seni. Pada awalnya, organisasi ini memiliki pandangan konservatif terhadap seni, namun seiring dengan perkembangan zaman, Muhammadiyah mulai menyadari pentingnya seni sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Saat ini, Muhammadiyah aktif dalam berbagai bidang seni, seperti musik, tari, teater, dan seni rupa, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Dengan adanya lembaga pendidikan seni dan berbagai grup seni Islami, Muhammadiyah terus berkontribusi dalam mengembangkan seni yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna dan sesuai dengan ajaran Islam. Seni dalam Muhammadiyah bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat nilai-nilai moral dalam masyarakat. (*)
Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments