Hudzaifah bin Al-Yaman adalah teladan disiplin memegang amanah dan ketaatan luar biasa kepada Rasulullah Saw. Ia pemuka dalam hikmah, dipercaya dalam berbagai amanah, dan gagah berani di banyak medan juang.
Taat Pemimpin
Pada tahun kelima Hijriyah, terjadi Perang Khandaq atau Perang Ahzab di Madinah. Hudzaifah kala itu punya peran signifikan atas keselamatan pasukan Muslim. Hal ini, karena dia memegang teguh amanah dari Sang Pemimpin yaitu Muhammad Saw.
Pada Perang Khandaq itu, setelah berlangsung sekitar satu bulan, merayap rasa gelisah di barisan musuh yaitu kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutu mereka dari golongan Yahudi.
Di medan perang ada banyak kesulitan seperti faktor cuaca, persediaan makan-minum yang menipis, dan lain-lain.
RasululullahSaw bermaksud mengetahui perkembangan terakhir di perkemahan musuh-musuh.Malam itu, gelap gulita dan menakutkan karena angin topan mengamuk.
Di saat seperti itu, siapakah gerangan yang memiliki keberanian berjalan ke tengah-tengah perkemahan musuh? Siapa kiranya yang tak gentar untuk secara diam-diam menyelinap ke dalam perkemahan dan menyelidiki keadaan musuh?
Nabi MuhammadSaw lalu memilih Hudzaifah untuk tugas yang sangat sulit itu. Tentu, Hudzaifah harus menerima amanah itu meski sadar akan akibatnya. Dia paham, bahwa situasinya berat kala itu.
Berangkatlah Hudzaifah. Dia menempuh jarak yang terbentang di antara kedua perkemahan itu. Lalu, secara diam-diam berhasil menyelinap ke perkemahan musuh.Sebelum itu, angin kencang telah memadamkan alat-alat penerangan pihak lawan.
Saat Hudzaifah berada di tengah-tengah pasukan musuh, Abu Sufyan yang berposisi sebagai Panglima Perang Quraisy, takut bila kegelapan malam itu dimanfaatkan oleh mata-mata kaum Muslimin untuk menyusup ke perkemahan mereka.
Dia pun berdiri untuk memperingatkan anak buahnya. Dia berteriak,agar orang-orang Quraisy memperhatikan kawan duduknya. Dia minta untuk memegang tangan orang di sebelahnya dan mengetahui siapa namanya.
Seruan yang diucapkan dengan keras itu terdengar oleh Hudzaifah. Dia cerdas dan responsif. Dia segera berinisiatif menjabat tangan laki-laki yang duduk di dekatnya dan bertanya kepadanya,”Siapa kamu?”
Langkah taktis itu membuat Hudzaifah aman. Keberadaannya di tengah-tengah tentara musuh tak dicurigai. Dia bebas memantau situasi.
Abu Sufyan mengulangi lagi seruan kepada tentaranya. Kali ini ditambah komando untuk mundur dari medan perang.Dia bilang kepada pasukannya, bahwa kekuatan kaum Quraisy sudah tidak utuh lagi.
Kuda-kuda mereka telah binasa. Demikian juga halnya unta-unta mereka.Bani Quraizhah, sekutu mereka, telah berkhianat sedemikian rupa pasukan Quraisy mengalami akibat yang tidak diinginkan.
Sebagaimana yang telah dirasakan,lanjut Abu Sufyan, dengan adanya bencana angin topan api menjadi padam. Juga, kemah-kemah berantakan. ”Oleh karena itu, berangkatlah kalian karena saya pun akan berangkat,” tutup Abu Sufyan.
Kemudian, Abu Sufyan naik ke punggung untanya dan mulai berangkat untuk kembali pulang ke Mekkah. Hal itu, lalu diikuti oleh tentaranya di belakang. Kaum Quraisy mundur dari medan perang.
Kemudian esoknya, Hudzaifah kembali dan menemui Rasul Saw. Dia ceritakan keadaan musuh. Dia sampaikan berita gembira, bahwa musuh telah mundur dari medan perang.
Melengkapi laporannya, berikut ini ungkapan luar biasa dari Hudzaifah. Bahwa, kalau bukan karena ada pesan Rasulullah Saw agar tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemui Sang Nabi, pasti dirinya telah membunuh Abu Sufyan dengan anak panah. Hal ini, karena situasinya saat itu sangat memungkinkan.
Kisah pada paragraf di atas menunjukkan sikap yang benar. Itu, sikap tepat dari seorang anggota pasukan kepada sang pemimpin. Itu, perilaku benar dari seorang jamaah kepada sang imam.
Kisah Berbeda
Apa yang diperagakan Hudzaifah, pada tahun kelima Hijriyah, berbeda dengan sebagian anggota pasukan di Perang Uhud. Memang, dua tahun sebelumnya yaitu pada tahun ketiga Hijriyah terjadi Perang Uhud. Dari sini, ada pelajaran pahit.
Kala itu pasukan musuh tiba lebih awal. Suasana tegang sudah terasa. Stategi dan taktik mulai diwujudkan. Sebagai komandan, Rasulullah Saw membuat siasat jitu.
Di sebuah bukit, Nabi Saw menempatkan lima puluh pemanah. Mereka bertugas menjaga pasukan yang ada di belakangnya dan diamanahi bahwa dalam situasi apapun tak boleh meninggalkan tempat sampai ada komando.
Kalkulasi yang ada, hanya dengan panah-lah pasukan berkuda musuh yang ingin menyusup dari belakang dapat ditahan.
“Tugas kalian,” kata Nabi Saw kepada lima puluh pemanah,
“Hanya satu, yaitu melindungi kami dari belakang. Bila kalian melihat kami bertempur, kalian tidak usah membantu. Bila kalian lihat kami memenangkan pertempuran lalu mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang), kalian jangan sekali-kali meninggalkan tempat untuk bergabung dengan kami hingga ada utusan yang datang kepada kalian”.
Pada perkembangannya, musuh terdesak. Semangat mereka menurun dan mulai dicekam putus asa. Mereka tak lagi berpikir untuk bisa melampiaskan dendam akibat kekalahan sebelumnya yaitu di Perang Badar.
Sekarang yang terpikir, bagaimana cara menyelamatkan diri. Terkait, sejatinya, tinggal sedikit saat lagi kemenangan dapat diraih pasukan Muslim.
Saat terlihat pasukan Muslim mulai melucuti senjata milik lawandan mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang),hal itu membuat pasukan pemanah yang ada di atas bukit tergiur.
Lalu, sekalipun telah diingatkan tentang amanah Rasulullah Saw oleh sang koordinator yaitu Abdullah bin Jubair, empat puluh di antara pemanah memilih turun dari bukit dan turut mengambil ghanimah.
Situasi itu dimanfaatkan musuh. Mereka bisa merebut jantung pertahanan pasukan Muslim, lalu melakukan serangan balik.
Dimulai dengan melumpuhkan sepuluh pemanah yang masih setia memegang amanah. Setelah itu, pasukan musuh dengan mudah mengobrak-abrik pasukan Muslim yang lain sehingga tercerai-berai.
Perang Uhud berakhir tanpa pemenang. Korban yang jatuh lebih banyak di pasukan Muslim, tujuh puluh syuhada. Sementara, dari pihak kafir Quraisy ada tiga puluh tujuh korban.
Mengapa pasukan Muslim tak jadi menang? Hal ini, karena amanah sang pemimpin tak ditaati mayoritas pemanah. Kala itu, petunjuk sang pemimpin tak diikuti oleh sebagian besar pemanah.
Sekilas Wajah
Tentu, dari kisah di Perang Khandaq atau Perang Ahzab, kita patut menjadikan Hudzaifah sebagai teladan. Siapa Hudzaifah? Apa lagi kisahnya yang menarik?
Semua aktivitas Hudzaifah dalam berdakwah dan membela Islam bermula saat dia bersama sang ayah serta adiknya masuk Islam. Sejak itu Islam mengubah pribadinya.
Dia benar-benar menganut Islam secara teguh dan tanpa ragu berjuang untuk agamanya dengan gagah berani. Dia dikenal lurus yang tak suka menghadapi sikap pengecut,kebohongan, dan kemunafikan. Akhlaknya, cemerlang.
Di kalangan para Sahabat Nabi Saw,Hudzaifah dikenal memiliki bakat istimewa. Bakat itu, bahkan mencapai tingkat keahlian yang khas yaitu bisa membaca tabiat dan air muka seseorang.
Dia dapat mengetahui rahasia di balik wajah seseorang dalam sekejap pandangan.Dia, tanpa susah payah, mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi (Khalid, 2018: 203).
Keseharian Hudzaifah, dalam satu hal, tampak berbeda dengan yang lain. Jika yang lain bertanya kepada Nabi Saw tentang jalan-jalan kebaikan, maka dia bertanya perihal yang sebaliknya yaitu soal keburukan atau kejahatan. Mengapa? Kata dia, karena takut dirinya tersangkut di keburukan itu.
Pengetahuan Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawanmenyebabkan lidah dan kata-katanya tajam dan pedas.
Hal ini diakuinya secara jujur seperti yang dia ungkapkan berikut ini: ”Saya datang menemui Rasulullah Saw lalu berkata kepada Beliau,’Wahai Rasulullah, lidah saya agak tajam terhadap keluarga dan khawatir bila hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka’.
Rasulullah Saw bersabda,’Mengapa engkau tidak beristighfar? Sungguh, aku beristighfar kepada Allah tiap hari 100 kali’.”
Teguh dan Indah
Pada suatu hari di tahun 36 Hijriyah,Hudzaifah wafat. Kala itu, menjelang wafat, dia ditunggui beberapa orang sahabatnya yang datang menjenguk. Dia sempat mengucapkan beberapa kalimat dan orang-orang yang hadir menyimaknya.
”Selamat datang, wahai kematian.Kekasih tiba saat dalam kerinduan.Tidak ada kemenangan bagi orang yang menyesal,” ucap Hudzaifah.
Setelah itu, Hudzaifah sang pribadi yang penuh dengan ketakwaan itu, meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu, aamiin. Semoga dakwah dan perjuangannya dapat kita teladani, termasuk dalam hal disiplin memegang teguh amanat dari seorang pemimpin.






0 Tanggapan
Empty Comments