Ramadan 1447 H terasa berbeda bagi kami. Biasanya, bulan suci ini dihabiskan dengan kesibukan yang tak jauh dari masjid kami sendiri—mengurus kegiatan, mengelola program, dan memastikan semuanya berjalan baik. Namun tahun ini, kami memilih langkah yang sedikit berbeda.
Bersama tim Media Digital Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, kami melakukan perjalanan kecil yang terasa seperti perjalanan spiritual: menyusuri masjid demi masjid, datang dengan waktu yang terbatas, namun dengan hati yang ingin belajar dari setiap rumah Allah yang kami temui.
Beberapa masjid di Surabaya dan Sidoarjo kami singgahi. Kami tidak hanya datang untuk duduk dan beristirahat. Setiap kali tiba di sebuah masjid, kami menyempatkan diri berdiskusi dengan para pengurus yang saat itu berada di sana.
Ramadan memang membuat banyak masjid tetap hidup hingga malam—ada yang mempersiapkan pengajian, mengatur buka puasa bersama, atau sekadar menjaga agar masjid tetap terbuka bagi siapa saja yang datang.
Setiap tempat selalu menyambut kami dengan hangat. Sebagian pengurus bahkan sudah mengetahui dari mana kami berasal. Bukan karena kami sering datang sebelumnya, melainkan karena media sosial yang kami kelola di Masjid Ar-Royyan yang dikenal dengan konsep “Masjid Ramah Musafir.” Dari situlah banyak orang mulai mengenal kami.
Kunjungan ke Masjid
Namun sebuah pertemuan di penghujung Ramadan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Di sela-sela 10 hari terakhir Ramadan, kami memutuskan menyambangi sebuah masjid di pinggiran Kota Surabaya. Masjid yang bahkan titik lokasinya tidak tercatat di Google Maps.
15 Maret 2026, bertepatan dengan 26 Ramadan 1447 H, sore itu hujan mengguyur hampir seluruh wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya. Sekitar pukul 16.30 WIB, kami bertiga menembus hujan lebat yang dibarengi angin kencang. Angin yang dinginnya terasa sampai ke tulang.
Saya datang bersama Hilmi Hidayatullah dan seorang anak kecil berusia 10 tahun yang sering menemani perjalanan kami, El Firdaus.
Setelah memasuki sebuah gang kecil tanpa penunjuk arah apa pun, kami akhirnya menemukan bangunan yang kami cari. Sebuah masjid yang berdiri agak masuk dari jalan, dekat deretan rumah kos, dan tepat berada di depan area makam.
Di sampingnya tumbuh rumpun bambu yang rimbun, semakin menambah kesan sunyi di tempat itu. Kabut tipis yang muncul akibat hujan sore membuat suasananya terasa sedikit sendu. Kami memberanikan diri masuk.
Bangunan masjid itu sebenarnya tampak seperti bangunan yang pernah dirancang untuk menjadi megah. Namun waktu dan keterbatasan membuatnya terlihat kurang terawat. Beberapa bagian atap bocor, sehingga air hujan mengalir hingga ke lantai. Tembok-tembok retak menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.
Namun di sudut lain, pemandangan berbeda menyambut kami.
Sekitar lima hingga enam anak sedang duduk mengaji. Mereka tampak sedang setoran hafalan Al-Qur’an kepada seorang ustadzah. Sang ustadzah memangku seorang balita, namun tetap fokus mendengarkan setiap ayat yang dibaca anak-anak itu, sesekali membenarkan bacaan mereka dengan sabar.
Sesekali anak-anak itu melirik ke arah kami. Wajar saja, kami adalah orang asing bagi mereka. Tak lama kemudian, dua pria paruh baya menghampiri kami dengan senyum yang begitu hangat. Mereka adalah Abd Hasyim Mawardi dan Aswarinoor. Senyum mereka sederhana, namun terasa tulus dan penuh keikhlasan.
Di depan gerbang masjid, kami melihat sebuah baliho yang hampir roboh. Di sana tertulis ajakan infak untuk pembangunan masjid, lengkap dengan QRIS yang mungkin berharap ada orang yang lewat dan bersedia membantu.
Di sisi lain bangunan masjid, terdapat tulisan besar:
“Selamat Datang di Kampus Pondok Pesantren Modern KH Mas Mansyur.”
Pusat Pendidikan
Kami tahu, itu bukan sekadar tulisan. Itu adalah mimpi.
Mimpi dari para pengelola yang percaya bahwa suatu hari tempat ini akan menjadi pusat pendidikan yang hidup. Mimpi dari orang-orang yang tidak pernah berhenti berikhtiar meski dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Dari cerita dua bapak yang kini tak lagi muda usianya itu, kami memahami betapa besar harapan yang mereka gantungkan pada tempat ini. Mereka merawat masjid ini, menjaga kegiatan santri, dan terus berusaha agar masjid ini suatu hari bisa lebih dikenal, lebih ramai, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Ketika waktu salat fardu tiba, jamaah yang datang biasanya hanya satu atau dua orang saja. Jumlah itu bisa sedikit bertambah jika para santri sedang berkegiatan. Di tempat sederhana itu terdapat 12 santri, anak-anak usia SD hingga SMP. Mereka belajar mengaji dan menghafal Al-Qur’an tanpa dipungut biaya alias Gratis.
Bukan karena semuanya sudah cukup, tetapi karena para pengelolanya percaya bahwa pendidikan Al-Qur’an tidak seharusnya berhenti hanya karena keterbatasan biaya.
Sore itu kami datang sebagai tamu. Namun kami pulang membawa banyak hal: rasa haru, rasa hormat, dan juga rasa bahwa kisah ini tidak seharusnya berhenti hanya pada pertemuan singkat di tengah hujan.
Masjid kecil ini berada di Balasklumprik, Wiyung, Kota Surabaya. Mungkin ia tidak muncul di peta digital, tidak memiliki papan penunjuk jalan, dan tidak dikenal banyak orang. Namun di tempat sederhana itu, ada orang-orang yang menjaga cahaya Al-Qur’an tetap menyala.
Semoga pertemuan ini tidak berhenti pada hari itu saja. Semoga kisah ini sampai kepada hati-hati yang peduli. Karena mungkin, di antara kita ada yang bisa membantu mereka—menghidupkan kembali rumah Allah ini, membesarkan mimpi yang sedang diperjuangkan, dan menjadikan masjid kecil di ujung gang itu kembali ramai oleh doa, ilmu, dan langkah para pencari kebaikan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments