Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar, Ahad (7/9/25), menghadirkan Ustadz Dr Ahmad Shabrun Jamil SSi MP, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Kajian yang berlangsung di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Kota Blitar itu mengangkat tema Ikhlas dan Kelapangan Hati dalam Tinjauan Sains dan Kesehatan.
Acara dimulai pukul 07.00 hingga selesai, diikuti sekitar 300 jamaah. Mereka terdiri dari Wakil Ketua PDM, PDA, NA, PDPM Kota Blitar, karyawan RSU dan RSI Aminah, serta warga dan simpatisan Muhammadiyah Kota Blitar.
Kajian dibuka dengan pembacaan basmalah yang dipandu moderator, Ustadz Bima Purwidya Haqjaya SPd. Penyampaian materi berlangsung singkat, jelas, dan dibantu media LCD proyektor. Hal ini membuat jamaah dapat mengikuti kajian dengan semangat hingga akhir.
Ikhlas dan Kelapangan Hati
Dosen muda Universitas Muhammadiyah Malang yang baru saja meraih gelar doktor itu menjelaskan secara ringkas tema kajian. Ia mengutip Hadits Riwayat Bukhari No 52 dan Muslim No 1599 yang menyatakan bahwa qalbu (hati) secara fisik adalah jantung. Secara rohani, qalbu berperan sebagai raja bagi jiwa manusia, tempat berpikir, merenung, mengingat, serta bersemayamnya niat dan amalan.
Qalbu dibagi menjadi tiga kondisi: sehat, sakit, dan mati. Qalbu sehat dicirikan dengan ibadah yang murni karena Allah, senantiasa kembali kepada-Nya, dan hanya bergantung kepada-Nya. Hati yang sehat juga terhindar dari syahwat dan syubhat, mencintai dan membenci karena Allah, serta konsisten mengikuti Rasulullah dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan.
“Hati sehat adalah hati yang didominasi ikhlas dan lapang hati. Artinya, melakukan sesuatu dengan tulus karena Allah, menerima ketetapan-Nya, dan hidup dengan tenang tanpa beban, bahkan ketika menghadapi kesulitan,” jelasnya.
Qalbu sakit, menurutnya, masih menampakkan tanda-tanda iman, namun sering didominasi nafsu. Ciri-cirinya antara lain tidak lagi merasa sakit saat berbuat maksiat, enggan dengan hal yang bermanfaat namun suka pada hal berbahaya, serta cinta dunia dan takut mati.
Adapun qalbu mati ditandai dengan hilangnya iman, tidak mengenal Allah, enggan beribadah, serta menuruti hawa nafsu. Nasehat tidak memberi pengaruh, bahkan lebih senang mengikuti seruan setan dibanding seruan Allah.
Gizi yang Menghidupkan Hati
Ustadz Shabrun menegaskan, ada beberapa amal yang dapat menghidupkan hati. Di antaranya adalah dzikir, mengingat mati, membaca Al-Quran, istighfar, berdoa, bershalawat, dan qiyamul lail.
“Dzikir adalah makanan pokok bagi hati. Dengan dzikir, hati mendapatkan cahaya, setan terhalau, ridha Allah diraih, duka cita hilang, dan wajah menjadi bercahaya,” tuturnya.
Kajian ditutup dengan doa, dan jamaah pulang dengan membawa pesan penting: menjaga hati agar tetap sehat dengan ikhlas, lapang dada, serta memperbanyak amal penghidup qalbu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments