Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ilmu Membuka Jalan, Akhlak Menuntun Tujuan

Iklan Landscape Smamda
Ilmu Membuka Jalan, Akhlak Menuntun Tujuan
Foto: Getty Images
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Dalam Islam, akhlak dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi Muslim yang beriman, berilmu, dan bermanfaat bagi sesama.

Akhlak berasal dari kata khuluq yang berarti tabiat atau sifat. Akhlak mencerminkan karakter seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya. Akhlak yang mulia tampak dalam sikap jujur, amanah, sabar, rendah hati, dermawan, dan adil.

Ilmu, dalam pandangan Islam, bukan sekadar pengetahuan teoretis, tetapi cahaya yang menerangi kehidupan.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)

Ilmu menjadi sarana untuk mengenal Allah, memahami ciptaan-Nya, serta menegakkan keadilan di muka bumi.

Hubungan antara Akhlak dan Ilmu

1. Akhlak Lebih Utama daripada Ilmu

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis, “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.” Demikian pula, ilmu tanpa akhlak hanya menjadi beban, bukan kemuliaan.

Seorang cendekiawan sejati bukan hanya pandai berbicara, tetapi berperilaku santun dan bijak.

Rasulullah saw menegaskan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi dan Al-Bazzar)

2. Ilmu Tanpa Akhlak Bisa Berbahaya

Ilmu adalah kekuatan. Namun, tanpa kendali akhlak, ilmu bisa menyesatkan.
Sejarah mencatat, ada ilmuwan yang menggunakan kecerdasannya untuk membuat senjata pemusnah, menipu publik, atau merusak lingkungan.

Sebaliknya, orang berilmu yang berhias akhlak menjadikan ilmunya sebagai sarana kemaslahatan, bukan kerusakan.

Tujuan Akhlak dan Ilmu

1. Mencapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Ilmu yang benar akan menuntun manusia menuju kebahagiaan hakiki. Namun, kebahagiaan itu tidak akan tercapai tanpa akhlak yang baik.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Akhlak menjaga ilmu agar tidak disalahgunakan. Sebaliknya, ilmu memperkuat akhlak dengan pemahaman yang benar tentang kehidupan.

2. Menjadi Teladan bagi Sesama

Seorang Muslim yang berilmu dan berakhlak baik menjadi sumber inspirasi bagi lingkungannya. Keteladanan Rasulullah saw menjadi contoh nyata: beliau bukan hanya guru yang mengajarkan ilmu, tetapi juga pribadi yang paling santun dan jujur dalam bertindak.

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (pahala) seorang mukmin di hari kiamat dibandingkan akhlak yang mulia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ketika Ilmu Disertai Akhlak

Suatu ketika, Imam Malik sedang mengajar di Madinah. Saat beliau sedang menyampaikan hadis, seekor kalajengking menyengatnya berulang kali. Murid-muridnya heran karena Imam Malik tetap tenang dan tidak menghentikan pelajaran.

Setelah selesai, barulah mereka tahu bahwa beliau menahan sakit agar tidak mengganggu kenyamanan para penuntut ilmu.

Inilah contoh nyata akhlak yang tinggi dalam mengamalkan ilmu.

Di masa kini, kita pun bisa melihat sosok-sosok yang berilmu tinggi namun tetap rendah hati. Guru yang tetap sabar menghadapi muridnya, dokter yang melayani pasien miskin tanpa pamrih, atau pemimpin yang adil dan amanah.

Mereka menunjukkan bahwa akhlaklah yang menjadikan ilmu bermakna.

Ilmu adalah cahaya, dan akhlak adalah pelita yang menuntun cahaya itu agar tidak membakar.
Dalam Islam, keduanya bukan pilihan, melainkan pasangan yang harus berjalan beriringan.

Sebagaimana pesan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:

“Pelajarilah ilmu, lalu berilmulah dengan tenang dan berwibawa, serta rendahkanlah dirimu terhadap orang yang mengajarimu.”

Dengan ilmu yang disertai akhlak, seorang Muslim akan mampu menjadi rahmat bagi sesama, serta membawa cahaya kebaikan bagi dunia dan akhirat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu