Pepatah lama mengatakan, “Malu bertanya sesat di jalan.” Kalimat sederhana ini menyimpan makna mendalam. Ia menegaskan bahwa keengganan untuk bertanya dapat menjerumuskan seseorang dalam kebingungan, bahkan kegagalan.
Betapapun cerdasnya seseorang, ia tetap membutuhkan komunikasi dan bimbingan dari orang lain. Tanpa itu, perjalanan hidup akan seperti orang yang berjalan tanpa penunjuk arah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya bertanya. Allah memerintahkan agar kita mencari ilmu dengan bertanya kepada ahlinya. Artinya, bertanya bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan ketaatan.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang malu bertanya dan sombong.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menekankan bahwa ilmu hanya bisa diperoleh dengan kerendahan hati. Dua penghalang besar dalam menuntut ilmu adalah rasa malu dan kesombongan. Malu bertanya membuat seseorang kehilangan kesempatan, sementara sombong menutup pintu bimbingan dari orang lain.
Dalam tradisi Islam, para sahabat Nabi sering bertanya untuk memperdalam pemahaman. Bahkan, ada sahabat yang rela menunggu momen tertentu hanya untuk mengajukan satu pertanyaan. Hal itu menunjukkan bahwa bertanya adalah salah satu pintu utama menuju hikmah.
Coba bayangkan seorang mahasiswa baru yang malu bertanya saat dosen memberikan penjelasan. Ia merasa khawatir dianggap bodoh oleh teman-temannya.
Akhirnya, ia tidak memahami materi yang sebenarnya sederhana. Ketika ujian tiba, ia kesulitan menjawab karena dasarnya tidak dipahami sejak awal.
Hal serupa juga bisa terjadi di dunia kerja. Seorang pegawai yang malu bertanya tentang tugas barunya akhirnya melakukan kesalahan fatal. Bukannya dipuji karena terlihat “mandiri”, justru ia dimarahi karena lalai. Padahal, jika sejak awal ia bertanya, masalah bisa dihindari.
Ilustrasi ini menunjukkan betapa bahayanya rasa malu yang tidak pada tempatnya. Malu yang benar adalah malu berbuat salah, bukan malu untuk belajar.
Menariknya, bertanya tidak hanya membuka jalan ilmu, tetapi juga mempererat hubungan antarmanusia.
Saat kita bertanya, kita sebenarnya sedang merendahkan hati, mengakui keterbatasan diri, sekaligus menghargai kelebihan orang lain. Dari sinilah tumbuh rasa saling menghormati, kasih sayang, dan persaudaraan.
Sebaliknya, orang yang menutup diri akan mudah terjebak dalam keterasingan. Rasa asing itu bisa memunculkan pikiran-pikiran negatif, bahkan merusak hubungan sosial. Maka, bertanya bukan sekadar aktivitas akademis, melainkan juga perekat sosial.
Para ulama menjelaskan bahwa bertanya adalah tanda orang yang berakal sehat. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ibarat hewan buruan, dan catatan adalah tali pengikatnya.” Salah satu cara mengikat ilmu adalah dengan bertanya, lalu mencatat jawabannya.
Dengan bertanya, seseorang menunjukkan kesungguhan dan keinginan untuk berkembang. Apalagi jika pertanyaan itu diajukan dengan adab yang baik, seperti merendahkan suara, memilih waktu yang tepat, serta tidak bermaksud menjatuhkan orang lain.
Bertanya adalah kunci. Ia membuka pintu ilmu, mempererat persaudaraan, dan menghindarkan kita dari kesesatan.
Bertanya menyampaikan isi hati dan membuka rahasia ilmu.
Bertanya di saat butuh adalah kebiasaan orang baik.
Bertanya menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan kepedulian sosial.
Oleh karena itu, janganlah malu untuk bertanya. Malu yang benar adalah malu berbuat dosa, bukan malu mencari ilmu. Ingatlah pepatah Arab:
“Barang siapa yang malu bertanya, ia akan tersesat. Barang siapa yang sombong, ia tidak akan mendapat manfaat dari ilmunya.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu haus ilmu dan tidak pernah malu untuk bertanya demi kebaikan dunia dan akhirat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments