Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Imam Mahfudzi SAg MFilI, menegaskan bahwa mengelola amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan pada hakikatnya adalah meneruskan tugas kenabian. Menurutnya, karena status mulia inilah, niat dalam menjalankannya harus lurus semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT.
Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara estafet kepemimpinan Kepala SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi).
Imam Mahfudzi mengutip salah satu ayat Al-Quran untuk memperkuat pandangannya.
“Tugas-tugas yang dijalankan kepala sekolah itu sebenarnya adalah tugas kenabian,” ujarnya.
Ia kemudian melantunkan ayat, “Huwalladzii ba’atsa fil ummiyyiina rasuulan minhum yatluu ‘alaihim aayaatihii wa yuzakkiihim wa yu’allimuhumul kitaaba wal hikmata…”.
“Itulah yang kita kerjakan melalui amal usaha sekolah ini,” tegasnya.
Karena statusnya sebagai tugas profetik, Imam Mahfudzi meyakinkan hadirin, khususnya kepada kepala sekolah baru Mahyuddin, untuk tidak khawatir dalam menjalankan amanah. Ia berpesan agar keyakinan ini dipegang teguh.
“Karena tugas ini tugas kenabian, maka niatnya itu jelas. Niatnya adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka semuanya akan didukung oleh Allah Subhanahu wa taala, akan dibantu oleh Allah Subhanahu wa taala,” tambahnya.
Ikhtiar Keras Tetap Wajib
Kendati demikian, Imam Mahfudzi mengingatkan bahwa pertolongan Allah tidak datang begitu saja tanpa adanya ikhtiar atau usaha yang sungguh-sungguh. Ia menganalogikan hal ini dengan kisah Nabi Musa AS ketika berada di tepi Laut Merah bersama kaumnya.
“Sebenarnya kalau menurut kekuasaan Allah Subhanahu wa taala, harusnya Allah sudah tahu bahwa mereka butuh menyeberang. Tapi Allah perintahkan adalah ‘Pukul!’ [laut merah itu],” lanjutnya. Menurutnya, ini adalah pelajaran bahwa ikhtiar yang keras tetap diperlukan.
Dalam konteks sekolah saat ini, ikhtiar tersebut harus diwujudkan dalam bentuk ijtihad dan inovasi.
“Pertolongan Allah Subhanahu wa taala tidak mungkin diperoleh tanpa kesungguhan,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa ikhtiar yang diperlukan as-saabiquunal awwaluun (para pendahulu) tentu tidak sama dengan ikhtiar yang harus dilakukan saat ini.
Tantangan Akreditasi dan Manajemen
Imam Mahfudzi lantas menyoroti tantangan spesifik yang dihadapi Miosi, yang sebelumnya telah disinggung oleh Ketua PCM.
“Tadi banyak PR ya. PR yang paling mudah tadi itu disampaikan, akreditasi dari B ke A,” katanya.
Ia menyatakan optimis target tersebut bisa dicapai oleh kepemimpinan yang baru.
“Kalau dari sisi fasilitas, jumlah siswa… itu rasanya mustahil kalau tidak bisa mendapatkan A. Itu mestinya akan bisa mendapatkan A,” ujarnya.
Untuk mencapai target-target tersebut, ia menyarankan penerapan prinsip manajemen yang berkelanjutan. Ia menyebut prinsip PPEPP.
“Jadi, ada lima langkah yang harusnya itu dijaga betul mulai dari perencanaannya (Penetapan), ya, ketika itu ditetapkan. Kemudian pelaksanaannya, kemudian evaluasinya, kemudian apa namanya? pengendaliannya,” jelasnya.
Ia menekankan siklus ini tidak berhenti.
“Tugas berikutnya ternyata yang kelima: Peningkatan. Balik lagi,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kompetensi entrepreneurship atau kewirausahaan. Menurutnya, ini adalah tuntutan zaman, bahkan termaktub dalam peraturan menteri yang baru. Ia menggarisbawahi bahwa pengelolaan keuangan adalah salah satu titik yang harus banyak mendapat perhatian.
“Intinya adalah bagaimana caranya mereka bisa mandiri secara keuangan,” katanya, merujuk pada semangat kurikulum merdeka.
Ia berharap Miosi dapat membuat terobosan-terobosan agar bisa memiliki nilai lebih dan bisa menyejahterakan seluruh warganya.
Di akhir sambutannya, Imam Mahfudzi mendoakan kesuksesan untuk Miosi dan kepala sekolah yang baru, Mahyuddin.
“Jika Miosi ini semakin meningkat, semakin inovatif, semakin baik, tentu itu juga akan memberikan dampak yang besar tidak hanya untuk Cabang Sidoarjo, untuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo bahkan untuk Muhammadiyah,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments