
PWMU.CO – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Avicenna Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kembali menggelar pelatihan keterampilan medis bertajuk “TIBIA 2025”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (21/6/2025), sebagai upaya untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang keterampilan klinik dasar, khususnya pada prosedur sirkumsisi (sunat) dan hecting (penjahitan luka bedah).
Ketua Umum IMM Avicenna FK UM Surabaya, Adyatma Eka Estiawan Rahman, menjelaskan bahwa TIBIA merupakan program tahunan yang berfokus pada pelatihan keterampilan dasar kedokteran.
“TIBIA adalah singkatan dari Training in Basic Medical Skill, yang secara khusus kami arahkan pada pelatihan sirkumsisi dan hecting. Dua keterampilan ini menjadi dasar penting bagi mahasiswa kedokteran untuk menjalani praktik klinis secara aman dan efektif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Adyatma menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini.
“Saya berharap teman-teman dapat meningkatkan keterampilan sirkumsisi dan hecting yang telah dipelajari, sehingga dapat menjadi bekal bagi kader-kader IMM Avicenna dalam melaksanakan bakti sosial khitanan massal pada awal Juli mendatang,” tuturnya.
Pelatihan tahun ini menghadirkan narasumber utama dari Departemen Bedah FK UM Surabaya, dr Agus Maulana SpB MKedKlin FINACS.
Ia menyampaikan materi lengkap mengenai teori dan teknik sirkumsisi, mulai dari anatomi penis, indikasi dan kontraindikasi tindakan, komplikasi pascaoperasi, hingga berbagai teknik pelaksanaan seperti dorsal slit, sleeve, guillotine, serta penggunaan alat bantu seperti Gomco clamp dan Plastibell.
Selain itu, sesi surgical suturing atau hecting juga disampaikan secara sistematis. Materi mencakup teknik dasar penjahitan luka, sejarah penggunaan benang catgut yang terinspirasi dari karya ilmuwan muslim Al-Zahrawi, serta panduan perawatan luka jahitan yang baik dan benar.
Salah satu poin penting yang disampaikan dr Agus dalam sesi materi adalah prinsip perawatan luka pascaoperasi. Setelah luka dijahit dengan rapi, area tersebut harus dibersihkan menggunakan disinfektan, kemudian ditutup dengan kasa steril dan diolesi salep antibiotik.
Metode perawatan dapat dibedakan menjadi open care (perawatan terbuka) dan closed care (perawatan tertutup), tergantung pada kondisi pasien serta kemampuan dalam menjaga kebersihan luka.
Dengan diselenggarakannya TIBIA 2025, diharapkan para peserta tidak hanya memahami aspek teoretis, tetapi juga mampu menguasai keterampilan praktis yang aplikatif dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kami ingin mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tanggap dan terampil saat terjun langsung ke lapangan,” tutup Adyatma. (*)
Penulis Rahma Ismayanti Editor Ni’matul Faizah





0 Tanggapan
Empty Comments