
IMM Harus Intelektual dan Cendekiawan, liputan kontributor PWMU.CO Kota Surabaya Adimas Setiawan
PWMU.CO – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Blue Savant Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) selenggarakan Dialog Kader (Dikader). Dikader dilaksanakan secara dalam jaringan (daring) dengan menggunakan media Google Meet (Gmeet) pada Ahad (3/4/2022).
Kegiatan menjelang puasa itu diikuti sekitar 65 peserta yang bergabung dalam Gmeet. Kegiatan Dikader ini salah satu bentuk follow up dari kegiatan Terapi Visi PK IMM Blue Savant yang diadakan pada Kamis-Ahad (18-20/2/2022) di gedung SMK Muhammadiyah 5 Babat.
Kader Berdialektika
Ketua Bidang (Kabid) Kader PK IMM Blue Savant Ajeng Retno Kustianingrum menyampaikan PK IMM Blue Savant menginginkan kader-kadernya bisa berdialektika. Bisa diawali dengan kajian dan beberapa kegiatan untuk memperdalam keilmuan calon kader.
“Salah satu dari kompetensi dasar IMM ada intelektual, disana ada kajian, diskusi dan baca buku. Sehingga calon kader kita wajibkan untuk bertanya,” ujarnya.
“Memang itu salah satu alasannya kita menginginkan teman-teman itu terbiasa berdialektika. Entah itu mereka hanya sekedar memberikan pertanyaan dan kita juga bersyukur kalau semisal mereka diberikan jawaban itu ada umpan balik,” ungkap Ajeng ketika diwawancarai PWMU.CO
Ciri Berintelektual
Dalam penyampaian materi Kabid Kader Pimpinan Cabang (PC) IMM Kota Surabaya Humanika Dian Nusantara juga menyinggung keterkaitan antara akademisi, intelektual dan juga cendekiawan saat mengisi Dikader PK IMM Blue Savant.
“Intelektual merupakan orang yang memiliki wawasan tingkat tinggi. Cendekiawan memiliki kecerdasan yang tinggi tapi menggunakan kecerdasannya untuk bermanfaat bagi orang lain seperti menjadi seorang yang mampu memecahkan suatu problematika di kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.
“Akademisi adalah kumpulan dari semuanya seperti orang yang berintelektual tinggi wajib untuk memberikan problem solving di kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya saja dia terlembaga di wilayah tersendiri,” imbuhnya.
Human menambahkan orang dikatakan berintelektual ketika, pertama dia memiliki bacaan yang banyak, kedua IQ nya sangat tinggi dan ketiga orang yang tidak terikat suatu sistem apapun.
“Kita dituntut untuk menjadi seorang yang berintelektual dan seorang yang bercendekiawan dengan tujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia,” tegasnya.
Co-Editor Sugiran. Editor Mohammad Nurfatoni.





0 Tanggapan
Empty Comments