Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Infak sebagai Jalan Tembus Keselamatan: Pesan Al-Hikam untuk Umat Akhir Zaman

Iklan Landscape Smamda
Infak sebagai Jalan Tembus Keselamatan: Pesan Al-Hikam untuk Umat Akhir Zaman
Foto: charitydigital.org.uk
pwmu.co -

Pemahaman infak tidak semata soal materi, melainkan jalan tembus (nafaqah) menuju pertolongan Allah dan keselamatan hidup dunia–akhirat.

Inilah pesan utama yang disampaikan Ustaz Muhammad Yasri, MHI, mubaligh Muhammadiyah, saat menguraikan kandungan Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah dalam sebuah ceramah penuh perenungan.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Yasri menekankan bahwa umat Islam akhir zaman memiliki usia yang relatif pendek, namun Allah memberi bobot amal yang besar jika dijalani dengan kesadaran makrifat dan niat infak dalam seluruh aspek kehidupan.

Ustaz Yasri menegaskan, Islam bukan sekadar ritual, melainkan konsep hidup yang mencakup dimensi pribadi dan sosial.

“Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu ajaran Islam harus dipahami dan dijalani dalam seluruh interaksi hidup, agar kita benar-benar berfungsi sebagai hamba Allah,” ujarnya seperti dikutip dalam Youtube Takmir Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya.

Dia mengingatkan pesan Al-Qur’an agar manusia wafat dalam keadaan muslim—yakni tunduk dan taat pada konsep kehidupan yang dibawa para nabi, terutama Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan terakhir.

Mengutip penjelasan Syekh Ibnu Athaillah, Ustaz Yasri menguraikan makna kata infak yang berasal dari akar kata nafaqah, yaitu “jalan tembus”. Ia memberi ilustrasi terowongan yang menembus gunung—mempersingkat jarak tempuh yang semula jauh dan melelahkan.

“Infak adalah terowongan kehidupan. Ia mempersingkat jalan pertolongan Allah, terutama bagi umat akhir zaman yang usianya pendek, tapi tantangan hidupnya jauh lebih berat,” jelasnya.

Rasulullah saw menyebut usia rata-rata umatnya antara 60 hingga 70 tahun. Namun, Allah memberi keberkahan luar biasa sehingga amal umat akhir zaman dapat melampaui umat-umat sebelumnya.

Umat Terakhir yang Diutamakan

Ustaz Yasri menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad saw secara periodisasi adalah umat terakhir, namun justru diutamakan dalam hisab dan masuk surga.

Hal ini karena Allah menetapkan umat Islam sebagai kuntum khaira ummah—umat terbaik yang memiliki peran aktif dalam menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Aktif memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar itulah ciri umat yang bahagia, karena mereka mendapatkan yang diinginkan dan terhindar dari yang dibenci,” ujarnya.

Menurut Ustaz Yasri, kesalahan umum manusia adalah memaknai infak hanya sebagai pemberian materi, lalu menuntut balasan.

Cara pandang ini melahirkan kekecewaan, perebutan, dan konflik—bahkan di rumah tangga, lembaga pendidikan, hingga ruang sosial dan politik.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Padahal Allah memerintahkan infak sekaligus memberi potensi untuk melakukannya. Jika niatnya infak, kita tidak akan kecewa, karena yang memberi hakikatnya adalah Allah,” tegasnya.

Dia mengingatkan bahwa rezeki dan pertolongan Allah justru datang melalui orang-orang yang tampak lemah di sekitar kita—istri, anak, murid, atau masyarakat kecil—yang menjadi ‘talang’ turunnya pertolongan Allah.

Dengan niat infak, hubungan sosial akan berubah menjadi komunikasi yang sejuk dan damai. Bahkan dalam kepemimpinan, Rasulullah saw menegaskan bahwa pemimpin terbaik adalah yang saling menyayangi dengan rakyatnya.

“Infak melahirkan saling melindungi, dan di situlah pertolongan Allah disegerakan,” kata Ustaz Yasri.

Teladan Rasulullah dan Bahasa Kasih Sayang

Ustaz Yasri menggambarkan Rasulullah saw bukan sekadar sebagai nabi dan rasul, tetapi sebagai figur yang menyayangi umatnya layaknya seorang ibu. Seluruh ajaran dan perintah Rasulullah disampaikan dengan bahasa kasih sayang, bukan paksaan.

“Allah sendiri menyayangi hamba-Nya jauh sebelum hamba mampu taat. Bahkan sebelum kita berprestasi apa pun, Allah sudah mencurahkan kasih-Nya sejak kita masih berupa setetes cairan,” ungkapnya.

Dalam perjalanan menuju Allah, Ustaz Yasri menekankan pentingnya memahami wasilah kasih sayang Allah, yakni kedua orang tua. Ia mengutip perintah Al-Qur’an agar berbuat ihsan kepada orang tua—bahkan jika mereka berlaku tidak adil.

“Ihsan itu membalas keburukan dengan kebaikan. Karena tidak ada kebaikan apa pun yang mampu mengganti air susu yang menjadi darah daging kita,” ujarnya.

Ustaz Yasri menutup dengan refleksi mendalam bahwa kekayaan terbesar umat Islam bukanlah materi, melainkan iman dan Islam—karunia yang hanya Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Ia mencontohkan kisah para penyihir Fir’aun yang menerima iman dalam waktu singkat, namun memilih keimanan meski harus kehilangan nyawa. “Keputusan dunia itu pendek, tapi pemberian Allah tidak terukur,” tegasnya.

Melalui telaah Al-Hikam, Ustaz Yasri berharap umat Islam mencapai kesadaran makrifat: tidak menjadikan makhluk sebagai bukti adanya Allah, melainkan menjadikan Allah sebagai bukti adanya seluruh kehidupan.

“Ketika kita infak—ilmu, harta, kasih sayang, dan niat—kita sedang meneladani Allah sesuai kapasitas kita sebagai hamba. Dan Allah tidak pernah mengecewakan orang yang berjalan di jalan-Nya,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu