Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Maskuri, M.Ed, menegaskan pentingnya pelaksanaan Kemah Santri Muhammadiyah (KSM) sebagai ajang strategis penguatan mutu dan karakter santri.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pembukaan Kemah Santri Muhammadiyah Jawa Timur, Ahad (14/12/2025), di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh santri dari pondok pesantren Muhammadiyah se-Jawa Timur, sebagai bagian dari persiapan menuju Kemah Santri Muhammadiyah Nasional.
Dalam sambutannya, Maskuri menjelaskan latar belakang perlunya KSM dilaksanakan. Ia mengungkapkan bahwa perkembangan pesantren Muhammadiyah di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat sejak dibentuknya LP2M PP Muhammadiyah pasca Muktamar ke-47 di Makassar.
“Pada tahun 2015 jumlah pesantren Muhammadiyah baru 127 dan tersebar di 15 provinsi. Kini telah berkembang menjadi 445 pesantren di 27 provinsi. Ini patut kita syukuri bersama,” ujarnya.
Ia menyebutkan, wilayah dengan jumlah pesantren Muhammadiyah terbanyak adalah Jawa Tengah (168 pesantren), disusul Jawa Timur (89), DI Yogyakarta, dan Jawa Barat (30). Menurutnya, pertumbuhan ini harus diiringi dengan peningkatan mutu agar pesantren Muhammadiyah mampu bersaing secara positif, baik di internal persyarikatan maupun dengan pesantren lain di luar Muhammadiyah.
Maskuri menekankan pentingnya adanya event nasional yang mampu membangkitkan semangat kolektif pesantren Muhammadiyah, sekaligus menjadi sarana silaturahmi dan berbagi pengalaman antar pesantren. Ia mengingatkan bahwa Kemah Santri Muhammadiyah Nasional ke-1 telah sukses digelar pada 20–22 Oktober 2024 di Bumi Perkemahan Kampung Karet, Karanganyar.
“Sebagai tindak lanjut, insyaallah Kemah Santri Muhammadiyah Nasional ke-2 akan digelar di Jawa Timur. Karena itu, KSM tingkat wilayah ini menjadi pemanasan sekaligus persiapan penting,” tegasnya.
Lebih lanjut, Maskuri menilai KSM bukan sekadar ajang perkemahan, melainkan ruang pendidikan karakter, penguatan jati diri, serta latihan kemandirian santri sebagai generasi penerus bangsa. Melalui kegiatan ini, santri belajar learn to live together, hidup bersama, saling menghargai, serta berbagi ilmu, pengalaman, keterampilan, dan prestasi.
“KSM adalah arena fastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan, menjunjung sportivitas, sekaligus memperkuat jejaring kepesantrenan dan kepanduan Hizbul Wathan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan 20 Nilai Budaya Santri, yang menjadi fondasi pembentukan karakter di pesantren Muhammadiyah. Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan santri dalam menjalani proses pendidikan dan perjuangan.
Mengangkat tema “Santri Berdaya, Mewujudkan Karya”, Maskuri menilai tema ini sangat relevan dengan tantangan zaman. Tema tersebut menegaskan pentingnya santri Muhammadiyah untuk berdaya secara intelektual, spiritual, dan sosial; berdaya dalam keahlian, kemandirian, serta kepemimpinan; sekaligus mampu melahirkan karya nyata bagi umat, bangsa, dan kemajuan Jawa Timur.
Di akhir sambutannya, Maskuri menyampaikan apresiasi kepada Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dan seluruh pihak yang telah menjadi mitra strategis dalam pembinaan karakter santri.
Ia mengajak seluruh peserta menjadikan KSM sebagai momentum penguatan karakter Islami, sarana mengasah kepemimpinan dan etika berorganisasi, wahana memperluas jejaring antar pesantren, serta medan latihan membangun peradaban Islam berkemajuan.
“Semoga kegiatan ini melahirkan generasi santri yang tangguh, berdaya saing, dan mampu mewujudkan karya terbaik bagi dakwah persyarikatan dan kejayaan bangsa,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments