Peran santri di tengah perubahan zaman menjadi sorotan dalam sesi kedua Seminar dan Diskusi Kemah Santri Muhammadiyah Jawa Timur, Ahad malam (14/12/2025).
Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Muhammad Arfan Mu’ammar, M.Pd.I, Sekretaris Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) PWM Jawa Timur, di Bumi Perkemahan Hizbul Wathan Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Dr. Arfan menegaskan bahwa di era kontemporer yang ditandai percepatan informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, peran santri tidak lagi terbatas pada ruang-ruang ritual keagamaan. Santri memikul amanah besar sebagai pelanjut tugas kenabian atau fungsi prophetik, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Jumu’ah ayat 2.
Ayat tersebut, jelasnya, memuat tiga tugas utama Rasulullah SAW, yakni membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan Kitab dan Hikmah. Ketiga tugas ini menjadi fondasi utama peran prophetik dan sekaligus mandat moral-intelektual bagi santri di setiap zaman.
Fungsi pertama, yatlū ‘alayhim āyātihi, dimaknai bukan sekadar melafalkan teks wahyu, tetapi juga memahamkan dan menguatkan aspek kognitif manusia melalui integrasi nilai-nilai Al-Qur’an dengan disiplin ilmu yang ditekuni.
Santri, menurut Dr. Arfan, dituntut mampu menghadirkan perspektif wahyu dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga sains dan teknologi, agar ilmu berkembang sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan kemaslahatan.
Pembelajaran terhadap ayat-ayat Allah tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, mulai dari membaca Al-Qur’an dengan tartil, menghafalnya, memahami maknanya, mentadabburinya dengan akal dan hati, hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah penguatan kognitif berbasis wahyu yang menjadi inti pendidikan prophetik santri.
Tugas kedua, wa yuzakkīhim, menekankan pentingnya penyucian jiwa melalui pembinaan akhlak dan karakter. Akhlak tidak dipahami sebatas perilaku lahiriah, melainkan kondisi batin yang menjadi sumber setiap tindakan. Karena itu, pembentukan akhlak harus dimulai dari pembenahan cara pandang dan pola pikir. Keteladanan Rasulullah SAW dalam kesabaran, sikap pemaaf, dan kasih sayang, bahkan dalam situasi sulit, menjadi rujukan utama pendidikan akhlak santri.
Dr. Arfan juga menekankan pentingnya integritas pribadi santri, yakni keselarasan antara penampilan di ruang publik dan kepribadian di ruang privat. Santri dituntut tidak hanya tampil saleh secara simbolik, tetapi juga menjaga keutuhan moral dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip mendahulukan adab sebelum ilmu, dan ilmu sebelum amal, menjadi fondasi pembentukan karakter santri yang utuh.
Tugas ketiga, wa yu‘allimuhumul-kitāba wal-ḥikmah, menegaskan bahwa pendidikan prophetik tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus melahirkan kebijaksanaan. Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman menjadi contoh pendidikan holistik, di mana keadilan harus berjalan beriringan dengan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan umat.
Di era digital, lanjutnya, tugas prophetik menghadapi tantangan serius berupa dangkalnya informasi, maraknya hoaks, serta budaya membaca instan. Fenomena masyarakat yang miskin kedalaman literasi berpotensi melahirkan kegaduhan sosial, lemahnya adab publik, dan dominasi opini tanpa dasar ilmu.
Dalam konteks inilah peran santri menjadi sangat strategis. Pembelajaran prophetik harus dimaknai sebagai pembelajaran mendalam yang melahirkan masyarakat berilmu, terampil, dan bijaksana. Membaca secara prophetik berarti membaca dengan kesadaran intelektual dan spiritual, sehingga ilmu yang dihasilkan berorientasi pada kemanusiaan dan kemaslahatan.
Melalui materi ini, santri ditegaskan bukan hanya sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga agen pencerahan yang menjalankan fungsi kenabian dalam bidang ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan. Peran inilah yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga peradaban tetap berada di jalur kebenaran. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments