Suasana sejuk TSOT Prigen menjadi saksi penutupan kegiatan Spiritual Journey MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan, Jumat (19/12/2025).
Setelah tiga hari perjalanan spiritual yang sarat pengalaman, Mudir Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Mujianto, M.Pd.I., secara resmi menutup kegiatan yang telah menempa fisik, mental, dan spiritual para peserta didik.
Dalam sambutannya, Mujianto mengajak para santri merenungi makna waktu. Ia membingkai kehidupan dalam tiga dimensi hari: kemarin, hari ini, dan hari esok.
“Hari kemarin adalah hari yang tidak bisa kembali. Suka atau duka, semuanya telah berlalu dan tidak bisa dihapus. Berlalu biarlah berlalu,” tuturnya, penuh penekanan.
Tiga hari di Prigen, lanjutnya, adalah rangkaian pengalaman—bahagia, lelah, haru—yang kini menjadi bagian dari kenangan. Sementara hari esok adalah ruang harapan, yang hanya bisa diisi dengan doa dan ikhtiar.
“Hari kemarin adalah kenangan, hari yang akan datang adalah doa dan harapan,” ujarnya.
Namun, Mujianto menegaskan bahwa hari inilah yang paling menentukan. Aktivitas hari ini, kebiasaan hari ini, dan pilihan hari ini akan menjadi penentu cerah atau tidaknya masa depan.
“Kalau hari ini kita dibiasakan disiplin, ibadah, tertib, dan berbuat baik, maka pembiasaan itu akan membentuk karakter kalian. Itulah modal terbesar untuk masa depan,” pesannya.
Ia menekankan bahwa Spiritual Journey bukan sekadar kegiatan luar kelas, melainkan bekal kehidupan. Nilai-nilai yang ditanam selama tiga hari—kedisiplinan, kebersamaan, kemandirian, dan spiritualitas—ibarat benih yang harus terus dirawat.
“Kalau tidak menanam, besok kita akan bingung. Maka mari kita bawa bekal sebanyak-banyaknya dari sini. Bekal itu yang akan tumbuh di hari yang akan datang,” katanya.
Menutup sambutannya, Mujianto berharap pengalaman spiritual selama tiga hari di Prigen tidak berhenti sebagai kenangan sesaat, tetapi menjelma menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Mudah-mudahan bekal tiga hari ini tidak dilupakan dan benar-benar menjadi bekal untuk masa depan,” pungkasnya.
Di tengah udara dingin Prigen, para santri pulang membawa sesuatu yang hangat: bekal nilai, harapan, dan tekad untuk menata hari esok melalui kesungguhan hari ini. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments