Dalam wacana dakwah Islam berkemajuan, perpaduan antara khosyah — rasa takut yang disertai pengagungan kepada Allah — dan mahabbah — cinta yang tulus kepada-Nya — merupakan pondasi utama dalam membangun gerakan dakwah yang visioner, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan. Dakwah yang hanya bertumpu pada rasa takut berpotensi menciptakan umat yang kaku, defensif, dan terjebak dalam kecemasan berlebihan.
Sebaliknya, dakwah yang hanya mengandalkan cinta tanpa diimbangi khosyah berisiko melahirkan sikap longgar yang melemahkan kewaspadaan moral. Integrasi keduanya menghadirkan keseimbangan ruhani: rasa hormat yang mendalam kepada Allah berpadu dengan cinta yang menggerakkan kebaikan. Keseimbangan ini menuntun umat untuk berdakwah dengan kokoh, bijaksana, serta menjaga adab dan martabat dalam setiap langkah perjuangan.
Khosyah bukanlah sekadar rasa takut, tapi merupakan kesadaran yang mendalam atas kebesaran dan pengawasan Allah. Kesadaran inilah yang kemudian menumbuhkan pengendalian pada diri secara ikhlas. Dalam al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir 35: 28)
Ayat tersebut menegaskan bahwa khosyah lahir dari ilmu dan kesadaran intelektual-spiritual. Dalam dakwah berkemajuan, khosyah menjadi benteng bagi pendakwah dari godaan memanipulasi pesan agama demi kepentingan duniawi. Seorang da’i yang diliputi khosyah tidak akan berbicara demi popularitas, melainkan berpegang pada kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga pesan dakwahnya tetap murni dan diridhai Allah.
Jika khosyah menjadi kendalinya, maka mahabbah adalah gas penggerak roda dakwah. Sesungguhnya ungkapan cinta kepada Allah akan mampu menumbuhkan sikap yang penuh kelembutan, rasa kasih sayang yang besar, dan kepedulian pada umat. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sikap Mahabbah, selain mendorong pendakwah untuk tidak hanya mengoreksi kesalahan umat, juga merangkul seorang pendakwah untuk mengutamakan hikmah dan kelembutan. Ia mendorong dakwah yang membina, bukan menghukum; yang membangkitkan harapan, bukan menebar keputusasaan.
Dakwah Islam berkemajuan
Islam berkemajuan menuntut gerakan dakwah yang berorientasi pada maslahat global — dengan tanpa melepaskan akar spiritualitas. Jika Khosyah memastikan dakwah tetap berada di rel syariat dan menghindari penyimpangan etis. Maka mahabbah memastikan dakwah disampaikan secara rahmat. Hal ini sesuai sabda Nabi Saw
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Muslim)
Integrasi keduanya membentuk paradigma dakwah yang tidak kaku, namun juga tidak permisif. Khosyah menjaga pendakwah agar tidak hanyut dan larut dalam kompromi nilai, sementara mahabbah memastikan pesan sampai dengan hati yang terbuka.
Implikasi strategis dakwah kontemporer
Dalam lanskap global yang sarat pluralisme dan dinamika sosial, dakwah Islam berkemajuan perlu menampilkan wajah Islam yang tegas dalam prinsip namun lembut dalam pendekatan. Khosyah menuntun pendakwah untuk kritis terhadap arus pemikiran yang bertentangan dengan akidah, sedangkan mahabbah menggerakkan dialog konstruktif dengan mereka yang berbeda pandangan.
Kedua unsur ini saling melengkapi; mengabaikan salah satunya akan menimbulkan distorsi. Khosyah tanpa mahabbah dapat melahirkan dakwah yang kaku dan eksklusif, sementara mahabbah tanpa khosyah berisiko membuat dakwah longgar dan kehilangan arah. Keseimbangan antara ketegasan aqidah dan kelembutan akhlak menjadi kunci keberlanjutan dakwah yang berkemajuan — adaptif, inklusif, dan berprinsip. Dengan harmoni tersebut, dakwah dapat meneguhkan iman sekaligus merangkul kemanusiaan, selaras dengan spirit Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.
Integrasi antara khosyah dan mahabbah merupakan inti spiritualitas dakwah Islam berkemajuan. Khosyah meneguhkan integritas dan keteguhan prinsip, sementara mahabbah menumbuhkan kelembutan hati serta daya tarik dakwah. Sinergi keduanya melahirkan gerakan dakwah yang bukan saja kokoh secara teologis, tetapi juga relevan, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Memadukan keduanya dalam rasa takut yang berkesadaran dengan kehangatan cinta yang tulus, maka dakwah Islam berkemajuan berpeluang menjawab tantangan zaman secara ideal tanpa kehilangan kemurnian misi kenabian: menyampaikan kebenaran dengan penuh hikmah dan kasih sayang.***






0 Tanggapan
Empty Comments