Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMK Muhammadiyah 8 Paciran (IPM SKAMALA) menyerahkan hasil donasi aksi galang dana kemanusiaan kepada LazisMu Lamongan. Penyerahan donasi dilakukan oleh perwakilan pengurus IPM SKAMALA kepada pihak LazisMu Lamongan sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah Muhammadiyah.
Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni pada 9–10 Desember 2025. Pada hari pertama, penggalangan dana difokuskan di lingkungan internal dengan melibatkan seluruh keluarga besar SMK Muhammadiyah 8 Paciran. Sementara pada hari kedua, IPM SKAMALA turun langsung ke masyarakat, khususnya di Desa Kandangsemangkon dan Desa Paciran.
Dari kegiatan tersebut, IPM SKAMALA berhasil menghimpun donasi sebesar Rp8.440.500. Capaian ini melampaui ekspektasi panitia dan menjadi pengalaman pertama bagi IPM SKAMALA memperoleh donasi dalam jumlah yang cukup besar. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan melalui LazisMu Lamongan untuk membantu para korban bencana banjir di Pulau Sumatera, khususnya di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Umum IPM SKAMALA, Muhammad Nanang, menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan solidaritas pelajar Muhammadiyah terhadap saudara-saudara yang terdampak bencana.
“Melalui aksi ini, kami ingin mengajak seluruh keluarga besar SMK Muhammadiyah 8 Paciran untuk bersama-sama meringankan beban para korban banjir. Dana yang terkumpul diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan para terdampak sekaligus menjadi dukungan moral bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini,” ujarnya.
Nanang menambahkan, kegiatan penggalangan dana ini juga bertujuan menumbuhkan rasa empati, kepedulian sosial, serta semangat kemanusiaan di kalangan pelajar dan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Muhammadiyah 8 Paciran, Emi Ismawati, S.Pd, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi IPM SKAMALA tersebut. Menurutnya, aksi kemanusiaan ini merupakan program yang sangat positif dan bermanfaat bagi pembentukan karakter peserta didik.
“Sebagai generasi muda, mereka diajak untuk tanggap terhadap bencana yang terjadi di sekitar. Sejak dini, pelajar perlu dilibatkan dalam kegiatan yang membangun karakter kepedulian dan rasa cinta terhadap sesama,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga olah rasa dan pembelajaran kontekstual.
“Melalui proses berkesadaran bahwa ada saudara yang membutuhkan uluran tangan, siswa belajar nilai-nilai kemanusiaan secara nyata,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments