Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kandangsemangkon, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, menyelenggarakan Salat Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) di halaman Perguruan Muhammadiyah Kandangsemangkon. Salat Id dimulai pukul 06.25 WIB.
Sebelum pelaksanaan salat, Wakil Ketua PRM Kandangsemangkon bidang Tabligh dan Dakwah Komunitas menyampaikan laporan infaq jariyah selama Ramadan 1447 H yang mencapai Rp235.000.000.
Pada pelaksanaan tahun ini, Khoirul Anam, S.Q., bertindak sebagai imam, sedangkan khutbah Idulfitri disampaikan oleh Zulkifli, eksekutif Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
Jumlah jamaah mengalami peningkatan signifikan. Jika biasanya hanya sekitar 2.000 jamaah dari warga setempat, tahun ini mencapai hampir 3.000 jamaah. Membludaknya jamaah dipengaruhi kehadiran warga dari desa-desa sekitar yang turut mengikuti salat Id, sehingga halaman Perguruan Muhammadiyah hampir tidak mampu menampung seluruh jamaah.
Dalam khutbahnya, Zulkifli mengangkat tema tentang makna kebahagiaan dalam perspektif Islam. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta atau kedudukan, melainkan pada ketenangan hati yang selalu mengingat Allah.
“Idulfitri adalah momentum kembali kepada fitrah, hati yang bersih, dan di situlah sumber kebahagiaan sejati,” ujarnya.
Ia juga mengutip firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Selain itu, ia menekankan pentingnya rasa syukur dalam meraih kebahagiaan.
“Orang yang berbahagia adalah yang mampu bersyukur, baik atas nikmat kecil maupun besar,” ungkapnya.
Zulkifli juga mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari kebahagiaan. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW bahwa orang yang memutuskan silaturahmi tidak akan masuk surga (HR Bukhari-Muslim).
Selain itu, ia menyoroti aspek sosial Idulfitri, bahwa kebahagiaan sejati juga hadir ketika mampu berbagi dengan sesama.
“Zakat fitrah menjadi simbol kebahagiaan bersama, agar tidak ada yang kekurangan di hari raya,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PRM Kandangsemangkon menyampaikan bahwa membludaknya jamaah merupakan tanda meningkatnya kesadaran beragama masyarakat.
“Ini menunjukkan umat semakin haus akan kebahagiaan rohani dan kebersamaan dalam iman,” tuturnya.
Ia menambahkan, kebahagiaan Idulfitri tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga tercermin dalam kebersamaan saat umat berkumpul dalam satu saf.
“Membludaknya jamaah adalah simbol kebahagiaan kolektif. Kebahagiaan sejati hadir ketika iman, silaturahmi, dan kepedulian sosial berjalan beriringan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia berharap momentum Idulfitri tidak berhenti pada perayaan semata, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari melalui amal nyata.
“Kami berharap semangat Idulfitri terus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial, zakat, dan silaturahmi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments